PVMBG Catat Alat Pendektesi 5 Gunung Berapi Dicuri Lebih Dari 1 Kali

PVMBG Catat Alat Pendektesi 5 Gunung Berapi Dicuri Lebih Dari 1 Kali

Muhammad Aminuddin - detikNews
Senin, 21 Mei 2012 15:45 WIB
PVMBG Catat Alat Pendektesi 5 Gunung Berapi Dicuri Lebih Dari 1 Kali
Malang - Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana dan Geologi (PVMG) menyayangkan peralatan pendeteksi gunung berapi banyak ditemukan hilang. Tercatat 5 gunung di Indonesia kehilangan peralatan yang membantu memantau aktivitas gunung lebih dari 1 kali.

5 Gunung itu yakni Gunung Bromo, Semeru, Tangkuban Perahu, Guntur dan Sinabung.
"Lah iya itu kok banyak yang mencurinya. Di Tangkuban perahu sampai 5 kali," sesal Kepala PVMBG Surono kepada wartawan di Hotel Santika Jalan Letjen Sutoyo, Senin (21/5/2012).

Menurut dia, salah satu anak buahnya berjaga di pos Gunung Tangkuban Perahu meninggal setelah berusaha mengejar pencuri peralatan seharga Rp 400 juta.

Sebagian besar, lanjut dia, pencuri tergiur keuntungan setelah mengambil baterai merupakan sumber energi peralatan pendeteksi aktivitas gunung berapi itu.

"Harganya mahal, kita gak bisa beli langsung. Pencuri banyak mengambil batereinya," tutur Surono.

Ia menambahkan, belum semua gunung berapi di Indonesia yang berjumlah 127 itu terpasang peralatan pendeteksi sesuai kebutuhan. Jika minimal memiliki 4 sampai 5 alat, hanya bisa memasang satu alat saja.

"Kita hanya mampu pasang satu, itu saja dicuri," katanya.

Selain itu, lanjut dia, dari 127 gunung berapi itu hanya mampu mendirikan pos pantau sebanyak 66 pos. Keterbatasan tenaga profesional menjadi alasan terbesar.

"Kita kekurangan tenaga," tandasnya.

Ia mencontohkan, di negara lain dalam satu pos pantau memiliki lebih dari empat pakar vulkanologi, bahkan, kepala pos pengamatan bergelar profesor. Namun, di Indonesia ahli vulkanologi hanya memiliki sekitar 7 orang bergelar doktor.

"Doktor hanya 7 itupun banyak perempuan," terangnya.

Ia menambahkan, sebanyak 66 pos pengamatan yang ada hanya terisi 2-3 orang, semua dapat dikatakan buta terkait pengamatan gunung berapi. Pihaknya berharap permasalahan ini segera bisa teratasi.

"Sangat sulit cari sarjana mau jaga di pos pantau," papar Surono.

(fat/fat)
Berita Terkait