Kepala PVMBG Surono mengatakan, riset bersama Kyoto University masih berjalan didukung peralatan yang dimiliki keduanya.
"Kita lakukan riset untuk mengetahui letusan Kelud pasca tumbuh kubah lava," katanya kepada wartawan usai menjadi pembicara pertukaran pakar tanggap bencana Indonesia antara TNI dan U.S Amry Pacific di Hotel Santika Jalan Letjen Sutoyo, Senin (21/5/2012).
Menurutnya, tumbuhnya kubah lava akan mempengaruhi aktifitas letusan Gunung Kelud. Sebab, kubah telah menutup danau biasanya melontarkan jutaan meter kubik air dalam letusan sebelumnya.
"Kalau memang meletus ke atas, pasti mengangkat material kubah, jika ke samping arah mana. Itu yang kini kita teliti," tutur Surono.
Ia memprediksi letusan Kelud memiliki dampak jauh lebih besar dibanding sebelumnya. Karena itu harus dilakukan pemantauan intensif.
"Yang jelas lebih eksplosif dengan jumlah material berkisar 160 juta meter kubik," tegasnya.
Kondisi ini, kata dia, juga merubah wilayah dampak akibat letusan. Bukan mengacu pada peta rawan bencana sebelumnya.
"Peta rawan bencana Kelud juga harus berubah," sambung dia.
Seperti sejarahnya, lanjut Surono, Kelud dinamakan sesuai dengan aktivitasnya yakni menyapu seluruh wilayah dibawahnya dengan lahar letusan.
Kelud juga menjadi cikal bakal lahirnya vulkanologi di Tahun 1920 pasca meletus setahun sebelumnya. Ia pun meragukan dengan tumbuhnya kubah lava gunung menjadi perebutan antara Kabupaten Blitar dan Kediri itu masih bernama Kelud.
"Kalau sekarang bukan kelud namanya, melihat tumbuhnya kubah lava itu," ungkap lelaki kelahiran Cilacap ini.
Surono mengaku, kondisi Gunung Kelud saat ini dapatkan dikatakan normal, pertumbuhan kubah lava juga mulai berhenti di titik 200 meter.
"Sekarang tetap normal, tapi kita pantau terus, karena kekhawatiran skenario baru letusannya," papar Surono.
Ia menyayangkan, Kelud menjadi rebutan hanya karena keinginan materi dan tak terjadi jika gunung itu meletus.
"Kalau meletus mau kah, di wilayah saya saja. Pasti kan tidak ada yang mau. Yang penting Kelud masih milik Indonesia jangan berebut," ujarnya mengakhiri wawancara.
(fat/fat)











































