Penerapan aturan ini dikirim kepada 180 orang tua wali murid kelas 3. Surat tertanggal 16 Mei 2012 yang ditandatangani Kepala Sekolah SMAN 5, Faridah MMPd itu, dilampiri surat pernyataan sanggup mentaati peraturan sekolah yang harus ditandatangani wali murid.
Dalam surat itu termaktub aturan yang harus ditaati seluruh siswa kelas 3. Diantaranya, pada saat hari kelulusan yang akan digelar Sabtu 26 Mei itu, seluruh siswa kelas 3 dilarang keluar rumah hingga pukul 17.00 WIB.
Siswa dinyatakan lulus jika sampai pukul 17.00 WIB tidak ada petugas sekolah yang datang ke rumah siswa. Petugas sekolah hanya mendatangi rumah siswa yang tidak lulus.
"Jika ketahuan keluar rumah dan ikut konvoi, maka ijazah siswa akan ditahan di sekolah," tandas Faridah, Rabu (16/5/2012).
Untuk memantau, mengawasi dan memonitor siswanya yang ikut konvoi, Faridah menugaskan sejumlah staf guru di beberapa titik keramaian. Semisal di kawasan bundaran Taman Arek Lancor.
Pengawas lainnya akan ditugaskan di kawasan wisata Pantai Talang Siring, Pantai Brenta hingga ke kawasan Pantai Camplong di Kabupaten Sampang. Pengawas akan dilengkapi kamera digital untuk merekam wajah siswa SMAN 5 yang kedapatan ikut konvoi.
"Tapi saya berharap, para siswa dengan dukungan wali murid mentaati larangan konvoi kelulusan," harap Faridah.
Aturan lain yang berdampak pada sanksi penahanan ijazah adalah penyerahan seragam sekolah ke masing-masing wali kelas. Ada 3 stel seragam yang wajib diserahkan. Yakni, 2 stel seragam putih abu-abu dan 1 stel seragam pramuka.
"Jika siswa ada yang tidak menyerahkan seragamnya kepada wali kelasnya, maka yang bersangkutan akan terancam tak menerima ijazah. Ijazahnya akan kami tahan sementara," urai Faridah.
Faridah menjelaskan, seragam siswa klas 3 itu akan kembali diserahkan H+3 setelah kelulusan. "Jika ada siswa yang akan mengambil seragamnya, kami akan serahkan kembali. Jika siswa mengikhlaskan, maka sekolah akan menyumbangkan kepada panti asuhan," jelas Faridah.
Namun kebanyakan siswa kelas 3 SMAN 5 Pamekasan, bertekad menyumbangkan 3 stel baju seragamnya itu kepada sekolah. Seperti yang dikatakan Lia Apriliani (18). Gadis asal Jalan Gatot Koco itu, telah direstui orangtuanya untuk menyumbangkan seragam sekolahnya.
"Jika nantinya saya lulus, saya dan orangtua telah ikhlas sumbangkan seragam sekolah," kata Lia, seusai menyerahkan 3 stel seragamnya ke sekolah, Rabu (16/5/2012).
Menyumbang seragam, bagi Lia adalah nazarnya. Gadis berjilbab itu mengaku telah bernazar akan menyumbangkan seragam sekolahnya jika lulus nanti.
"Sejak hari pertama ujian, saya bernazar akan sumbangkan baju seragam. Sayang kan kalau dicorat coret malah dibuang," tutupnya.
(fat/fat)