"Ini adalah aksi lanjutan dari kegiatan kemarin yang berakhir dengan kekecewaan pada kami," kata salah satu warga, Yudo Wintoko, kepada detiksurabaya.com, Selasa (17/4/2012).
Setelah berkumpul, sebagian warga menghentikan semua kegiatan BPLS seperti pengaliran lumpur ke sungai Porong dan juga penghentian backhoe yang mengaduk lumpur. Di lokasi terlihat 3 unit pompa penyedut lumpur tidak beroperasi, begitu juga dnegan backhoe yang tidak bergerak.
Di titik tanggul tersebut, warga juga memasang spanduk berisi kecaman terhadap BPLS, Minarak Lapindo Jaya (MLJ) maupun Bakrie. Isi spanduk antara lain, "Tanggul ini milik korban lumpur","BPLS harus angkat kaki","6 tahun korban belum beres","Taruhan darah dan nyawa sebagai jaminan" dan lain sebagainya.
"Apakah kami nanti akan memblokir jalan, kami belum tahu," tambah Yudo.
Yudo menambahkan warga tetap akan bertahan di tanggul hingga beberapa hari ke depan. Tujuannya agar pemerintah baik daerah dan pusat tahu bahwa korban lumpur selama 6 tahun telah sangat menderita.
Dia menjelaskan dalam waktu dekat ini sekitar 2 ribu warga akan berangkat ke Jakarta untuk melakukan demo ke pemerintah pusat. Berkumpulnya warga tersebut mendapat penjagaan dari personel Polres Sidoarjo.
Bahkan warga akan menduduki tempat ini hingga beberapa hari ke depan dengan tujuan pemerintah tahu bahwa korban lumpur selama 6 tahun sangat menderita. Di lokasi terdapat beberapa personel Polres Sidoarjo. Puluhan personel terlihat berjaga di sekitar lokasi tanggul termasuk Kapolres Sidoarjo, AKBP Marjuki.
"Kegiatan ini tidak masalah, kita tanggapi dengan baik. Kalau bisa warga menghubung saja instansi terkait biar persoalannya beres," saran Marjuki.
(iwd/fat)










































