Kedatangan buruh untuk menyampaikan 3 tuntutan terkait Raperda ketenagakerjaan. Diantaranya menuntut DPRD agar lebih transparan dan melibatkan stake holder dalam diskusi raperda yang akan dibahas.
Buruh juga menuntut agar Perda yang akan dibuat harus bisa menjawab dan mengatasi persoalan-persoalan ketenagakerjaan. Yang terakhir, buruh menuntut agar isi Perda nantinya mampu menjawab kebutuhan hukum atau undang-undang ketenagakerjaan dan wajib lebih baik dari undang-undang yang ada.
"Jika Perda tidak mampu meningkatkan perlindungan dan kesejahteraan buruh, maka kita akan lakukan demo lebih besar lagi. Kita akan tutup jalan pantura," ancam koordinator aksi, Jazuli dalam orasinya.
Buruh gabungan dari berbagai organisasi juga menyerahkan draft berisi usulan buruh agar dipertimbangkan dalam pembahasan Raperda. "Jika wakil rakyat tidak bisa memperjuangkan nasib buruh, jangan salah buruh kalau berjuang dengan caranya sendiri. Anda masih siap melawan!" teriak Jazuli disambut teriakan kesanggupan oleh ratusan buruh.
Buruh menuntut agar pembahasan Raperda ketenagakerjaan tidak asal-asalan dan ngawur, dimana isinya hanya normatif dan menjiplak Undang-undang saja. Para buruh, katanya, sudah pintar dan mengerti berbagai permasalahan ketenagakerjaan yang membelit buruh. Diantaranya upah yang murah, jaminan sosial yang sangat rendah, perlindungan buruh perempuan yang bekerja sampai malam hari, outsourcing, pekerja kontrak, pekerja lepas dan lain-lain.
Hingga saat ini, buruh masih bertahan di depan gedung DPRD. Mereka menunggu perwakilan mereka yang sedang menyampaikan aspirasi di dalam gedung.
(bdh/bdh)










































