Dan mungkin nelayan adalah pengguna BBM yang paling terpukul jika BBM jadi dinaikkan. Pasalnya, sebelum harga BBM naik, pendapatan mereka tergerus habis hanya untuk membeli solar saja. Jika BBM jadi naik, para nelayan bahkan tak berani membayangkannya.
"Kami ini seperti orang asing yang hidup di negeri sendiri," kata salah satu nelayan Desa Sukorejo, Sapii, dalam forum dampak kenaikan BBM dan BLT terhadap masyarakat nelayan Jatim di balai nelayan Desa Sukorejo, Gresik, Minggu (25/3/2012).
Kata 'asing' ditekankan Sapii karena para nelayan hampir tidak mendapatkan keuntungan dari ikan yang mereka tangkap. Masih banyak nelayan yang hidup di bawah garis kemiskinan. Sementara stake holder 'ikan' yang lain seperti pedagang maupun restoran justru mendapat banyak kemakmuran dari ikan.
"Apa yang kami peroleh tidak sepada dengan apa yang kami keluarkan," tambah Sapii.
Sapii menjelaskan, untuk satu kali melaut, nelayan setidaknya membutuhkan 10 liter solar yang jika dirupiahkan menjadi Rp 45 ribu. Untuk sebagian nelayan jumlah itu membengkak menjadi Rp 50 ribu karena mereka membeli solar secara eceran. Untuk makan di tengah laut, setidaknya membutuhkan biaya Rp 10 - Rp 20 ribu.
"Kami melaut dengan sampan kecil diisi 3 orang. Kami melaut ke dekat selat samudera yang berjarak sekitar 5 km dari rumah kami," lanjut Sapii.
Sapii menerangkan, tak setiap hari ikan ada. Tetapi kadangkala ikan cukup berlimpah. Tetapi rata-rata ikan yang ditangkap hanya dihargai Rp 20 - Rp 40 ribu oleh para pedagang yang menampung hasil tangkapan nelayan. Jika hanya uang sejumlah itu yang didapat, terus akan kemanakah para nelayan mencari selisihnya.
Sementara itu, koordinator acara, Khidir Amirullah, mengatakan bahwa para nelayan sudah pasti menolak adanya kenaikan harga BBM. Dengan harga BBM saat ini saja, para nelayan sudah tercekik, apalagi dengan dinaikkannya harga BBM. Khidir juga menyoroti ketidakadilan dalam pembagian Bantuan Langsung Tunai.
"Di Sukorejo, banyak BLT yang salah sasaran. Warga yang seharusnya menerima justru tidak menerima BLT sama sekali," ujar Khidir.
Senada dengan Khidir, Kepala Desa Sukorejo, Faturahman, mendukung agar BBM tidak naik. Jika naik, itu sama saja dengan menyengsarakan warga desanya. Dari 1.700 warga desa, kata Fathurahman, 30 % diantaranya berprofesi sebagai nelayan. Dan para nelayan itu adalah para orang yang kebanyakan tidak muda lagi yang sudah mempunyai keluarga.
"Yang muda bekerja di pabrik sedangkan yang sudah berumur bekerja sebagai nelayan. Yang bekerja di pabrik akan menjadi nelayan jika diPHK atau tak ada alternatif nelayan lain. Jika sudah begitu, maka jumlah nelayan makin banyak, yang artinya makin banyak saja jumlah korban naiknya BBM," pungkas Faturahman.
(bdh/bdh)










































