Meski lolos dari maut, kedua kaki dan tangan kanan Sudar, warga Kota Kulon Kecamatan Kota Bondowoso remuk dan terputus. Dalam keadaan kritis pria 25 tahun itu langsung dilarikan ke IGD RSU dr Abdoer Rahem Situbondo.
"Tadi warga sempat mengira korban sudah meninggal karena kondisinya sangat parah. Kedua kaki dan tangan kanannya putus. Jadi evakuasinya menunggu polisi datang. Ternyata korban masih hidup," kata Kapolsek Panarukan AKP Supadi, Jumat (16/3/2012).
Insiden mengerikan itu terjadi di atas kapal tongkang pengangkut batu bara di Pelabuhan Panarukan Situbondo, Jumat (16/3/2012) siang. Saat kejadian, pekerjaan Sudar sebagai teknisi alat berat sebenarnya sudah selesai tadi pagi.
Mungkin karena kelelahan, Sudar pun tidur di belakang ekskavator yang masih ada di atas kapal tongkang. Saat korban tidur itulah, operator ekskavator Tajar (39) bermaksud menaikkan alat beratnya ke dermaga pelabuhan.
"Saya tidak tahu kalau waktu itu Sudar tidur di belakang ekskavator. Saya benar-benar tidak tahu," tutur Tajar yang warga Desa Tlogosari, Kecamatan Sumbermalang, Kabupaten Situbondo.
Benar saja, baru saja ekskavator berjalan mundur roda alat berat itu seperti melindas sesuatu di bawahnya. Saat bersamaan jeritan Sudar pecah dari bagian bawah ekskavator. Kontan saja Tajar yang terkejut segera memajukan lagi ekskavatornya.
"Saya tidak tega melihat kondisinya. Sudar cukup lama kerja bersama saya. Makanya saya rela ditahan," sambung Tajar.
Sementara dari pihak Admistratur Pelabuhan (Adpel) Panarukan Situbondo, pekerjaan memindah batu bara di atas kapal tongkang dengan alat berat itu dilakukan oleh pihak ketiga. Meski begitu, pihak pelabuhan tidak akan cuci tangan setidaknya dengan memberi santunan kepada korban.
"Pekerjaan alat berat itu melibatkan pihak ketiga, bukan milik pelabuhan. Waktu kejadian tadi sebenarnya pekerjaan alat berat sudah selesai. Jadi sudah bersiap pulang," ujar Budi Sampurno, Staf Adpel Panarukan Situbondo.
(fat/fat)










































