Unjukrasa dimulai dengan longmarch dari sekretariat pengurus cabang PMII Banyuwangi menuju ke Mapolres Banyuwangi. Disana mahasiswa berdialog dengan jajaran pejabat Muspida Banyuwangi yang sedang rapat.
"Bagaimana sikap anda menyikapi kenaikan BBM nanti? Menolak atau tidak?," seru mahasiswa.
Mahasiswa akhirnya memutuskan untuk meninggalkan tempat, karena jawaban yang diterima dinilai sangat normatif. Pengunjukrasa melanjutkan aksinya dengan berjalan kaki menuju ke salah satu simpang empat yang ada.
Disaat longmarch, tiga truk tangki Pertamina melintas. Mahasiswa akhirnya menghadang dan menaiki salah satu truk tangki Pertamina di posisi paling belakang. Kericuhan pun terjadi saat tiba di simpang empat yang dituju.
Mahasiswa ngotot untuk memblokir jalan dengan menghentikan truk tangki yang disanderanya. Namun polisi segera bertindak represif dengan menurunkan paksa sejumlah mahasiswa yang berdiri di atas truk.
Tidak berhenti disitu saja. Mahasiswa lainnya memasang badan di depan truk agar tidak meneruskan perjalanan. Polisi pun dibuat kalang kabut. Aksi dorong pun terjadi dan berlangsung cukup lama.
Kericuhan reda setelah mahasiswa mengalah dan membiarkan truk tangki Pertamina melanjutkan perjalanan. Untuk meluapkan kekesalan, mahasiswa memarkir puluhan sepeda motor persis di tengah simpang empat.
"Ternyata polisi masih saja membela orang-orang yang berduit," tuding seorang mahasiswa dalam orasinya.
Puas berorasi menyuarakan penolakan kenaikan BBM, mahasiswa akhirnya membubarkan diri. Dengan pengawalan ketat puluhan polisi, mahasiswa kembali ke sekretariat PMII di Jalan raya Agus Salim.
"Kita menolak keputusan Presiden SBY menaikan harga BBM," tegas Ketua Cabang PMII Banyuwangi, Dalail, pada sejumlah wartawan seusai unjukrasa.
(bdh/bdh)










































