"Kalau saling dendam, itu tidak akan ada akhirnya. Lebih baik damai saja," kata Kompol Kholilur Rahman kepada para bonek Pesapen, Senin (12/3/2012).
Wakapolres Pelabuhan Tanjung Perak itu memberi nasihat kepada puluhan bonek Pesapen setelah mendatangi rumah Huda di Pesapen II/1. Kedatangan Kholilur adalah untuk menyatakan belasungkawa. Kholilur datang sesaat setelah kedatangan rombongan pemain Persebaya yang juga berkunjung ke situ.
"Kami minta agar bonek berlaku tertib. Jangan ada dendam, karena dendam tak akan menyelesaikan masalah," tambah Kholilur.
Bila ingin menyaksikan pertandingan Persebaya di luar kota, kata Kholilur, sebaiknya berkoordinasi dengan Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) wilayah Pesapen. Bhabin nantinya akan menjembatani keberangkatan bonek Pesapen.
"Sebaiknya berangkatnya bareng-bareng, bhabin akan mengantarkan bonek ke terminal atau stasiun. Yang penting tidak rusuh, tidak ricuh," lanjut Kholilur.
Selain menggunakan bahasa Indonesia, Kholilur juga menyampaikan himbauannya dalam bahasa Madura. Tidak sulit bagi Kholilur karena dia memang berasal dari Madura. Dan mayoritas warga Pesapen memang beretnis Madura.
Seperti diketahui, Miftahul Huda adalah salah satu bonek yang ikut meninggal dalam perjalanannya ke Bojonegoro untuk menonton pertandingan Persebaya vs Persibo.
Huda meninggal dalam perawatannya di rumah sakit di Bojonegoro. Siswa kelas 2 SMP Kawung itu meninggal setelah kepalanya bocor akibat dilempari saat kereta yang ditumpanginya melewati Babat, Lamongan.
(iwd/bdh)










































