Miftakhul Huda Salah Satu Bonek Tewas Pamit Ikut Persami

Miftakhul Huda Salah Satu Bonek Tewas Pamit Ikut Persami

Imam Wahyudiyanta - detikNews
Sabtu, 10 Mar 2012 19:47 WIB
Miftakhul Huda Salah Satu Bonek Tewas Pamit Ikut Persami
Surabaya - Tangis di sebuah rumah di Jalan Pesapen masih lirih terdengar. Tangis tersebut datang dari Watini, ibu Miftakhul Huda, seorang bonek yang tewas terkena lemparan batu saat menumpang kereta di Lamongan. Watini kini tak dapat lagi melihat senyum ceria anak bungsunya tersebut. Jenazah Huda sudah dimakamkan siang tadi begitu tiba dari Bojonegoro.

"Anak saya tidak pamit menonton bola, tetapi pamit mengikuti Perkemahan Sabtu Minggu (Persami) di Gresik," kata ayah Huda, Suriyono, dengan wajah murung, Sabtu (10/3/2012).

Dengan tegar, Suriyono mengatakan bahwa saat itu dia percaya saja karena saat pamit Huda juga mengenakan pakaian pramuka lengkap. Pukul 23.00 WIB, pria 47 tahun itu terkejut saat mendapat telepon yang mengabarkan jika anaknya berada di rumah sakit di Bojonegoro.

Suara disana mengatakan jika kondisi anaknya cukup parah, darah terus keluar dari kepala dan hidungnya karena terkena lemparan batu. Tanpa menunggu lama, Suriyono naik bis sendirian menuju Bojonegoro.

Suriyono tiba pukul 02.00 WIB. Tetapi kenyataan berkata lain saat di rumah sakit Suriyono sudah mendapati tubuh Huda telah kaku tak bernyawa. Tentu saja hati Suriyono remuk redam mendapati kenyataan itu. Di rumah sakit itu dia juga melihat ratusan bonek dirawat karena mengalami luka.

"Saat itu saya tak tahu bagaimana mereka bisa begitu. Yang saya pikirkan adalah anak saya yang sudah meninggal," tambah Huda.

Paginya, jenazah siswa kelas 2 SMP Kawung itu kemudian dibawa ayahnya pulang. Pukul 11.00 WIB, jenazah Huda datang dan pukul 12.00 WIB jenazah ABG 14 tahun itu dimakamkan di pemakaman umum Mbah Ratu.

"Anak saya itu pendiam tetapi suka sepak bola. Dia sering nonton bola di Gelora 10 Nopember, tetapi kalau di luar Surabaya dia tidak pernah," lanjut Suriyono.

Salah stau teman Huda, Feri Ardiansyah, menceritakan kejadian yang dialami dirinya dan Huda. Saat itu mereka memang menumpang kereta barang dan duduk di atap kereta bersama Huda dan 4 bonek lainnya. Feri ketika itu sepertinya mendapatkan firasat. Huda enggan bernyanyi yel yel bonek padahal teman-temannya bernyanyi semua.

"Dia saya tanya kenapa kok nggak ikut nyanyi, tetapi dia diam saja dan tetap nggak ikut nyanyi," ujar Feri.

Feri sendiri berani menumpang kereta karena mendapat jaminan dari pengurus bahwa perjalanan itu aman. Ternyata perjalanan itu bakal menghantui pikiran Feri selamanya. Saat kereta melintas di wilayah Babat, Lamongan, tiba-tiba ratusan batu mulai mengarah ke kereta. Batu itu dilempar dari kanan kiri kereta.

"Saya nggak tahu berapa banyak lemparan, pokoknya banyak. Suasananya gelap tak ada lampu. Pokoknya kereta terus saja berjalan kencang," tambah Feri.

Saat dilempari, Feri mengaku menelungkupkan badannya termasuk Huda. Ternyata, selain batu, ada juga mercon, kembang dan diduga bom molotov
ikut dilempar. "Saya tak tahu apa itu. Yang pasti ada api-apinya diantara lemparan itu," terang Feri.

Meski gelap, tetapi Feri tahu saat itu ada temannya yang berdarah terkena lemparan, tetapi ia tidak tahu siapa karena ia terus menelungkup karena takut ada lemparan lagi. Sesampainya di Bojonegoro, barulah Feri sadar jika Huda yang merupakan tetangganya itu telah pingsan dengan kepala bocor.

"Wajahnya pucat, darah terus mengalir dari kepalanya. Saya gendong dia dan meminta tolong petugas kereta," jelas Feri.

Meski sudah berusaha tetapi nyawa Huda tak tertolong. Huda menghembuskan napas terakhirnya saat dirawat. Melihat sahabatnya meninggal, Feri mengurungkan niatnya melihat Persebaya dan lebih memilih pulang untuk ikut mengantar kepergian Huda untuk yang terakhir kalinya.

(iwd/bdh)
Berita Terkait