Putri pasangan Badri (29) dan Siti Romlah (23) itu kini dirawat intensif di Ruang Perinatologi RSU dr Abdoer Rahem Situbondo. Pihak rumah sakit menyarankan agar si bayi segera dilarikan ke RSU dr Syaiful Anwar Malang atau RSU dr Soetomo untuk mendapatkan penanganan memadai.
"Sudah 3 hari anak saya di sini (RSU Situbondo, red). Kata dokternya disuruh cepat operasi agar ususnya tidak infeksi. Tapi saya bingung karena tidak punya uang," kata Badri kepada wartawan di RSU Situbondo, Rabu (22/2/2012).
Menurut Badri, putri keduanya terlahir secara normal di rumahnya sekitar pukul 02.30 Minggu (19/2/2012) lalu. Sang bayi keburu terlahir sebelum Badri belum sempat membawa istrinya ke bidan setempat. Melihat kondisi putrinya tidak normal, siang harinya Badri membawanya ke bidan.
"Oleh bidan langsung dibuatkan surat rujukan ke sini. Sejak dirawat saya sudah habis biaya Rp 500 ribuan. Uang itu saya dapat dari hasil utang," keluh Badri yang bekerja sebagai nelayan itu.
Selama ini, Badri sudah berusaha keras mendapatkan layanan kesehatan gratis. Dia berusaha membuat Surat Keterangan Tanda Miskin (SKTM). Namun, sejauh ini usaha itu belum berbuah hasil karena masih menunggu tanda tangan dari Bupati Situbondo H Dadang Wigiarto yang masih berada di luar kota.
"Padahal katanya harus cepat dirujuk. Kalau tidak pakai surat miskin itu, saya disuruh siapkan uang. Termasuk untuk mobil ambulan Rp 1,4 juta. Saya tidak punya uang," tutur Badri.
Sementara Kepala Unit Pelayanan dan Pengaduan RSU dr Abdoer Rahman Situbondo Iir Nadhiroh mengatakan pihaknya tidak pernah mempersulit pasien dari keluarga miskin untuk mendapatkan layanan kesehatan gratis.
"Proses administrasinya bisa menyusul. Kami mengutamakan pelayanan," kata Iir Nadhiroh kepada wartawan.
Menurut Iir, selama ini pihaknya sudah mendorong keluarga pasien agar segera dirujuk ke RS dr Syaiful Anwar Malang untuk mendapatkan penanganan yang lebih memadai.
Namun hingga kini belum ada keputusan dari keluarga, dengan alasan bingung untuk biaya sangu. Padahal, kondisi bayi semakin memprihatinkan.
"Tidak betul jika ambulan rujukan harus bayar, pokoknya semuanya gratis. Asumsi itu jelas karena keluarga pasien salah persepsi. Bisa jadi penyampaian itu sebelum keluarga pasien mengajukan SKTM," pungkas Iir Nadhiroh.
(fat/fat)










































