Pendapat itu disampaikan Singky Soewadji, seorang pemerhati satwa. Singky juga dikenal sebagai juragan kembang api itu juga terlibat memburu kera nakal bersama tim gabungan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jatim, Taman Safari Indonesia (TSI) dan Kebun Binatang Surabaya (KBS), sejak Rabu (15/2/2012).
Senjata bius juga dibawa serta oleh tim pemburu Kera Jawa atau Macaca fascicularis. Satu unit senjata laras panjang made in Jerman milik TSI Prigen dan satunya senjata bius yang menyerupai tulup namun menggunakan pendorong gas/angin.
"Sejak kemarin kita telusuri keberadaan kera nakal itu," kata Singky kepada detiksurabaya.com melalui sambungan telepon, Kamis (16/2/2012).
Di sekitar pabrik baja Jatim Steel, kata Singky, memang dijumpai banyak kera atau semacam koloni. Namun diantara sejumlah kera itu terlihat satu ekor yang berperilaku aneh.
Singky yang juga pernah menjabat pengurus Perhimpunan Kebun Binatang Se Indonesia (PKBSI) Bidang Hubungan Antar Lembaga itu memastikan kera yang terlihat nakal itu berkelamin jantan.
"Kera itu sedang masa birahi sehingga agresif. Kera itu kerap memegangi dan memainkan alat kelaminnya," katanya.
Tim lantas mencoba memberi umpan berupa pisang yang sudah diberi obat bius. Namun kera yang sedang kepingin itu, kata Singky, nampaknya cukup pintar. "Umpan pisang bius itu tak disentuhnya. Tapi tim tidak putus asa," tambahnya.
Kemudian dengan kesabaran, tim yang sengaja tidak melibatkan warga agar suasana berjalan tenang, itu pun melanjutkan perburuan dengan strategi lain. Kera yang menjadi tersangka penyerangan terhadap warga selama ini pun digiring ke pabrik baja.
"Nampaknya kera itu pernah dipelihara orang. Kalau liar, dikasih umpan makanan pasti tetap tidak mau," jelas Singky.
Hingga akhirnya, tim menembak kera dengan obat bius di saat menemukan posisi yang menguntungkan. "Tembakan dr Nanang dari TSI Prigen tidak meleset," ungkap Singky. Dan 'tersangka' pun berangsur-berangsur pingsan setelah obat biusnya bereaksi.
(gik/gik)










































