Anggota Polsek KP3 Tanjungwangi yang di kampung halamannya akrab disapa Iwan ini meminta maaf melalui sambungan telepon, sekitar Pukul 14.00 Wib, Rabu (8/2/2012). Kabar itu diungkap Suryono. Briptu Dody ditemukan bersimbah darah dengan kepala bekas tembakan sekitar Pukul 16.15 Wib.
"Iwan sempat meminta maaf kepada ibu, dan keluarga melalui telepon,” jelas Paman Briptu Dody kepada detiksurabaya.com di rumah duka, Desa Bence, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar, Kamis (9/2/2012).
Namun Suryono tidak mengetahui persis, permintaan maaf ini terkait dengan apa. "Ya yang saya tahu, ibunya kemarin cerita begitu," tambah Suryono yang sangat berharap jenazah bisa segera dibawa ke Blitar untuk dikebumikan.
Orangtua almarhumm Abdul Fatah (60) dan Dwi Asih (55), serta kerabat lainnya saat ini tengah perjalanan menuju ke Banyuwangi untuk mengiringi kepulangan jenazah ke Blitar
Di rumah duka, suasana duka sangat terasa. Tetangga serta kerabat Briptu Dody berdatangan untuk mengucapkan belasungkawa.
Salah satu kerabat, Siswanto (50) menyatakan jika polisi muda itu dikenal seorang pendiam dan santun namun tertutup. Menurutnya Iwan memang jarang pulang semenjak bertugas di Banyuwangi.
"Masih saya ingat mas, Iwan ini anaknya pendiam dan santun sekali," kenang Siswanto di rumah duka. Ia seperti tidak percaya keponakannya telah mengambil jalan pintas mengakhiri hidupnya dengan menembak kepalanya.
Briptu Dody lulus dari SMA sekitar tahun 1998 dan langsung masuk menjadi anggota Polri. Pertama bertugas di Surabaya, kemudian dipindahkan ke tugas ke Banyuwangi. Almarhum meninggalkan seorang istri, Budi Retnowati dan seorang anak perempuan, Sireen, yang masih balita.
(gik/gik)











































