Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Pamekasan, mencatat jumlah rumah roboh dan rusak itu setelah mendata langsung ke lokasi Desa Tlontorajeh.
"Data hingga hari ini rumah roboh sebanyak tujuh unit, dan 68 lainnya rusak," kata Kepala Dinsosnakertrans Pamekasan Akmalul Firdaus, Kamis
(26/1/2012).
Dinsosnakertrans Pamekasan, lanjut Firdaus, telah memberikan bantuan berupa bahan material dan sembako kepada para keluarga yang rumahnya diterjang badai Laut Jawa itu.
Menurut Firduas, puluhan jiwa anggota keluarga pemilik rumah yang rusak bersedia mengungsi ke sejumlah rumah tetangga dan famili mereka.
"Meski siangnya para pengungsi kembali ke rumahnya, namun saat malam tiba mereka tidur di pengungsian," jelasnya.
Secara terpisah, Idris, warga Desa Tlontorajeh, mengatakan, badai kembali menghantam kampungnya sejak Minggu (22/1/2012) malam. "Setelah badai 20 hari sebelumnya, badai datang kembali persis malam tahun baru Imlek," jelas Idris.
Akibatnya, puluhan unit perahu disembunyikan di alur Sungai Pasean dan ratusan orang nelayan terpaksa menganggur. Badai yang menghantam kampungnya, diperparah dengan rusaknya sejumlah titik tangkis laut.
"Sejumlah titik bangunan tangkis laut jebol dihantam gelombang. Karena tak ada beton penahan, maka gelombang laut langsung menghantam sejumlah rumah warga," beber Idris.
Idris mensinyalir adanya kegiatan penambangan pasir liar di pantai utara Desa Tlontorajeh dan Desa Batukerbuy, ikut menyumbang naiknya ketinggian gelombang yang menghantam rumah warga.
"Saya mohon aparat terkait secepatnya menertibkan kegiatan penambang pasir laut yang dilakukan secara liar dan ilegal," tutup Idris.
(fat/fat)











































