Seorang Warga Pacitan Lahirkan Bayi Tanpa Anus

Seorang Warga Pacitan Lahirkan Bayi Tanpa Anus

- detikNews
Minggu, 08 Jan 2012 16:35 WIB
Seorang Warga Pacitan Lahirkan Bayi Tanpa Anus
Pacitan - Seorang bayi tanpa anus lahir di Dusun Bentis, Desa Sawahan, Kecamatan Donorojo, Pacitan. Orok berjenis kelamin laki-laki yang lahir dari seorang ibu bernama Dewi Lastri (22), saat ini menjalani perawatan di rumah sakit daerah setempat.

"Lahirnya di Puskesmas Kalak tapi langsung dirujuk ke rumah sakit," ujar Marni (42) nenek bayi saat berbincang dengan detiksurabaya.com di RSUD Pacitan, Minggu (8/1/2012) siang.

Menurut Marni, saat dilahirkan, Kamis (5/1/2012) si jabangbayi dalam kondisi kembar. Keduanya berjenis kelamin laki-laki. Bayi pertama lahir pukul 06.45 Wib dengan berat 1,8 kilogram. Sedangkan bayi kedua seberat 2 kilogram lahir pukul 07.05 Wib. Bayi kedua itulah yang belakangan diketahui mengalami kelainan.

Usai membantu persalinan, lanjut Marni yang menunggu proses kelahiran kedua cucunya, bidan puskesmas menyarankan pasien dirujuk ke RSUD. Pasalnya, perut sang ibu mengalami kembung dan tekanan darahnya turun drastis.

Setibanya di rumah sakit dan dilakukan observasi, barulah diketahui jika salah satu bayi mengalami kelainan. Yakni tidak memiliki anus. Hal itu langsung diberitahukan kepada pihak keluarga.

"Saya yang pertama kali dikasih tahu dan diajak menyaksikan langsung," kata Sri Astutik (37) salah seorang kerabat kepada detiksurabaya.com.

Hingga berita ini ditulis, bayi dengan kelainan itu masih menjalani perawatan di Ruang Perinatologi RSUD Pacitan. Sedangkan bayi lain yang lahir normal menempati salah satu ruangan bersama ibunya. Hanya, lantaran sempat mengalami pendarahan kondisi sang ibu belum stabil.

Dikonfirmasi, dokter jaga RSUD Pacitan, dr Dedi Prasetyo membenarkan jika pihaknya menerima pasien bayi tanpa saluran pembuangan. Bayi dengan panjang tubuh 48 sentimeter itu saat ini diberikan terapi infus.

Sebenarnya, kata dokter muda itu, respek minum bayi sangat bagus. Namun, pihaknya hanya memberikan asupan gizi dengan cairan infus. Pasalnya, jika dipaksakan pemberian minum melalui mulut justru akan membahayakan.

"Yang kita khawatirkan, kalau kita berikan (minum melalui mulut, red) sisa meatabolisme atau kotoran kembali lagi," terangnya.

(bdh/bdh)
Berita Terkait