"Ikan tongkol sekilonya hanya Rp 10 ribu, tapi kalau gurita bisa sampai Rp 45 ribu per kilogram," ujar Teguh, seorang nelayan ditemui detiksurabaya.com di Pantai Wawaran, Kecamatan Kebonagung, Selasa (29/11/2011).
Kemunculan binatang laut bertubuh lunak dengan belalai panjang itu, seolah menjadi durian runtuh bagi nelayan. Terlebih, cara mendapatkannya juga relatif lebih mudah dan murah dibanding menangkap ikan.
Hanya bermodalkan umpan berupa kepiting tiruan, nelayan dapat membawa pulang puluhan kilogram gurita per hari. Cara ini tentu jauh lebih sederhana dibanding menangkap ikan yang butuh biaya tinggi.
"Kalau menangkap ikan harus pakai jaring dan lokasinya ditengah. Kalau gurita tempatnya di tepi karang. Jadi BBM-nya juga lebih ringan," papar Miseri, nelayan lainnya.
Miseri menuturkan, munculnya kawanan gurita di Perairan Pacitan bukanlah hal baru. Pada saat tertentu, hewan-hewan tersebut banyak bertebaran di Samudera Hindia. Hanya saja, selama ini keberadaanya kurang diperhitungkan. Sebab, harganya jualnya jauh dibawah ikan.
"Kalau dapat paling-paling dimasak sendiri untuk lauk," imbuhnya.
Namun, saat pangsa pasarnya menjanjikan hampir semua nelayan mendadak menjadi pemburu gurita. Dampaknya positifnya, aktivitas di TPI (tempat pelelangan ikan) yang biasanya sepi berubah ramai. Uniknya, dagangan yang diperjual belikan bukan lagi ikan, melainkan gurita.
"Kemarin malah ada yang gede banget. 1 ekor beratnya sampai 5,5 kilogram," tutur Sukatmi, pedagang ikan di TPI tak jauh dari pantai.
Di Pantai Wawaran terdapat sedikitnya 400 orang nelayan yang menggantungkan hidup dengan melaut. Beberapa komoditas laut berkwalitas ekspor seperti lobster, gurita maupun ikan tuna menjadi andalan wilayah yang berbatasan dengan laut lepas itu.
"Ya senang lah, biasanya penghasilan tidak sebanyak ini. Alhamdulillah," ungkap nelayan bernama Giman, diamini rekan-rekannya.
(bdh/bdh)











































