Ritual tahunan bertajuk Sedekah Laut ini dimaksudkan untuk menyambut kedatangan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1433 H. Ini sekaligus ungkapan syukur atas karunia Tuhan dalam setahun terakhir.
"Kami setiap hari mencari rejeki dari laut. Sudah sepantasnya kami juga memberikan sedekah kepada laut," ujar Imam Haryono, sesepuh Paguyuban Nelayan Pantai Teleng kepada detiksurabaya.com di lokasi.
Sesaji yang disiapkan berupa nasi tumpeng setinggi 1 meter. Menu khas Jawa tersebut juga dilengkapi lauk berupa ayam panggang maupun makanan pendukung lain.
Mengawali prosesi, sesaji diletakkan di pelataran TPI (Tempat Pelelangan Ikan). Di sekelilingnya, ratusan nelayan duduk membentuk lingkaran.
Kali ini, warna prosesi sedikit berbeda. Sebab, panitia sengaja mendatangkan ustadz untuk memberikan pengajian. Tidak ketinggalan, iringan seni shalawatan juga ditampilkan.
Usai mendengarkan tausiyah, para nelayan lalu khusuk dalam doa bersama dipimpin Kyai Muhadi. Mereka kemudian makan bersama dengan menu yang telah disiapkan sebelumnya.
"Kami berusaha memasukkan semua unsur, baik agama maupun tradisi," tambah Imam.
Usai adat kenduri, tumpeng lalu dibawa 4 orang dengan cara ditandu.
Masih dengan iringan shalawatan, sesaji lalu dibawa keliling pantai
sebelum akhirnya dibawa ke tengah teluk untuk dilarung.
Keseluruhan prosesi menyita perhatian warga maupun wisatawan. Ratusan orang tampak mengikuti hingga sesaji dilarung. Bahkan beberapa diantaranya rela menyewa perahu.
Kegiatan semakin tampak atraktif karena puluhan perahu yang mengiring sesaji dihias sedemikian rupa. Iring-iringan perahu warna-warni itu berputar-putar di sekitar teluk sebelum larung dilakukan.
Banyaknya wisatawan yang datang juga membuat aparat kepolisian bekerja ekstra. Aparat polsekta maupun polair tampak mengawal ketat keseluruhan acara.
"Malam ini masih akan digelar Wayang Kulit dan campursari," pungkas Imam Haryono.
(bdh/bdh)










































