Selain meminta pekerja keluar dari area tanggul yang sedang dibangun, warga juga menyampaikan orasi, menuntut sisa pembayaran 25 persen segera dicairkan, maupun yang belum terbayarkan sama sekali.
Dari pantauan detiksurabaya.com, Kamis (17/11/2011) ratusan warga dari tiga desa, Desa Besuki, Desa Pajarakan dan Desa Kedung Cangkring Kecamatan Jabon, dan didominasi kaum laki-laki itu, melakukan aksinya di tanggul baru.
Dalam orasinya, massa juga menuntut tanah milik lima warga (berkas) yang belum terbayar sama sekali, untuk segera mendapatkan ganti. Juga ganti rugi tanah gogol yang sampai saat ini belum ada kejelasan.
Sambil berjalan menyusuri tanggul baru, warga meminta seluruh pekerja dari Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS), yang sedang melakukan penanggulan, untuk segera menghentikan aktivitasnya.
"Bapak-bapak yang bekerja di tanggul lumpur, untuk hari ini supaya menghentikan aktivitasnya. Dan semua alat berat supaya dipindahkan, tidak ada yang di tanggul," ujar Mujiarto salah satu koordinator warga yang melakukan imbauan kepada pekerja dengan menggunakan pengeras suara.
Aksi warga ini tidak sampai terjadi kontak fisik dengan pekerja, karena ratusan warga tersebut mendapatkan penjagaan dari ratusan personel Polres Sidoarjo.
Mendapatkan imbauan dari warga, puluhan pekerja penanggulan serta sekitar 12 alat berat, meninggalkan lokasi. Mereka berjalan ke arah Jalan Baru Desa Besuki di dekat Kali Porong.
Meski pekerja dan alat berat tersebut terhenti aktivitasnya, warga tetap melakukan aksinya, sambil berjalan mengelilingi tanggul dan mengecek, apakah masih ada pekerja lain atau tidak.
Setelah memastikan tidak ada kegiatan penanggulan, akhirnya warga kembali ke arah pemukiman dan bergerombol di pertigaan antara bekas jalan tol lama dan Jalan Besuki.
(roi/bdh)










































