Adanya aktivitas di gunung setinggi 3.676 meter di atas permukaan laut didapat dari data yang disampaikan Pos Pengamatan Gunung Semeru kepada Satlak Penanggulangan Bencana (PB) Kabupaten Lumajang.
Dalam rekomendasi nomor 44/11/BGV,P-SMR/2011, disampaikan Pos Pengamatan Gunung Semeru, Selasa (15/11/2011) bahwa Gunung Semeru sering mengeluarkan lontaran material vulkanik berupa bebatuan pijar. "Hal ini terjadi ketika aktivitas Gunung Semeru terjadi letusan atau hembusan," jelas Kepala Pos Pengamatan Gunung Semeru Suparno.
Aktivitas letusan dan hebusan inilah, yang melontakan bebatuan pijar yang sangat membahayakan jiwa, jika ada aktivitas manusia di dekat puncak Gunung tertinggi di Pulau Jawa ini.
Sementara untuk data lainnya, terjadi 58 kali guguran, tektonik terasa 1 kali, tektonik lokal 4 kali, tektonik jauh 69 kali, tremorharmonik 1 kali. Dari pengamatan visual, situasi di puncak Semeru terhalang kabut hingga tak teramati dengan cuaca terus tertutup mendung gelap. Suhu terpantau mencapai 21 derajat celcius dan maksimal 25 derajat celcius dengan konidsi angin bertiup tenang.
Asap kawah/solftara selama sebulan terakhir tak teramati dan hembusan asap/abu selama sebulan terakhir teramati terjadi 25 kali dengan warna asap putih dan coklat tipis yang disebabkan tekanan gas lemah sampai dengan kuat. ”Ketinggian asap condong ke barat dan utara. Namun tidak menyebabkan hujan abu,” papar Suparno lagi.
Untuk itu, kata Suparno melalui suratnya, pihak pengamatan vulkanologi merekomendasikan zona larangan aktivitas di sekitar kawah ditetapkan sejauh 1 kilometer.
"Dalam jarak ini khususnya bagi pendaki tidak boleh melanggarnya rekomendasi lainnya adalah penetapan zona bahaya di radius 4 kilometer lereng tenggara aktif yang merupakan alur luncuran awan panas, yang bisa sewaktu-waktu terjadi," ungkap Suparno.
Suparno juga mengimbau kepada warga yang tinggal di bantaran DAS kaki Semeru untuk waspada jika terjadi huaj di atas puncak Mahameru. Pasalnya, endapan material yang berada di puncak berpotensi menjadi lahar dingin apabila diguyur hukan.
"umlah endapan material vulkanik lepas hasil hembusan selama kemarau lalu di seputar bibir kawah berpotensi luncuran lahar dingin jika kawasan puncak diguyur hujan dan warga yang beraktivitas atau bermukim di dekat bantaran DAS kaki Semeru diimbau waspada,” pungkas Suparno dalam rekomendasinya.
(bdh/bdh)










































