Menengok Tradisi Mantu Kucing di Banyuwangi

Menengok Tradisi Mantu Kucing di Banyuwangi

- detikNews
Minggu, 13 Nov 2011 15:16 WIB
Menengok Tradisi Mantu Kucing di Banyuwangi
Banyuwangi - Warga Desa Kumendung, Kecamatan Muncar, Banyuwangi, memiliki hajatan besar. Warga mengarak keliling kampung sepasang calon pengantin sebelum akhirnya dikawinkan dihadapan ratusan warga, Minggu (13/11/2011).

Acara itu awal dari rangkaian tradisi mantu kucing yang disakralkan warga setempat. Seperti nama tradisinya. Yang diarak warga bukanlah pengantin manusia. Melainkan sepasang kucing jantan dan betina yang sudah dewasa.

Uniknya, kucing yang akan dikawinkan itu haruslah milik perangkat atau kerawat desa setempat. Kucing jantan yang diberi nama Joko Subroto, hari itu milik Kepala Dusun Kumendung, Ponidi. Sedangkan kucing betina yang diberi nama Ririn Wafiroh milik Susanto, Kepala Dusun Sumberjoyo.

"Kucing yang akan dimantu haruslah punya kerawat desa," ujar Blegenk Iswahyudi, pemerhati budaya Jawa di Banyuwangi pada detiksurabaya.com dilokasi.

Calon pengantin dimasukan dalam kandang kayu, dan diarak dari tempat asal masing-masing. Sepanjang perjalanan, arak-arakan diiringi alunan musik tradisional dan tari barongan. Diperjalanan, sesekali barongan yang menyerupai kucing besar tersebut menggoda warga yang menonton.

Calon pengantin akhirnya dipertemukan disebuah sumber air sakral yang ada ditengah persawahan setempat. Disanalah akhirnya kedua mempelai itu dikawinkan. Namun butuh 'perjuangan' bagi keluarga mempelai pria untuk menyakinkan keluarga mempelai wanita.

"Perwakilan keluarga pria harus menang bertarung dulu dengan keluarga wanita," tambah Blegenk.

Setelah syah menjadi pasangan suami istri, akhirnya pengantin kucing tersebut dibawa ke mata air keramat. Disana, keluarga mempelai, pegawai Pemerintah Desa setempat, menceburkan diri seraya mencipratkan air ke arah warga lainnya.

Tradisi mantu kucing ini adalah upaya untuk melestarikan budaya dan kearifan lokal. Diawal kemunculannya, mantu kucing adalah bentuk upacara adat sebagai penolah musibah kekeringan atau untuk mendatangkan hujan.

"Acara ini akan kami hidupkan lagi, sebagai warisan budaya lokal," tutur Kepala Desa Kumendung, Husaini, pada wartawan, disela acara.

(gik/gik)
Berita Terkait