"Beruntung kami terbiasa membawa pulang uang hasil jasa bengkel setiap kali menutup usaha. Jadi, uang yang hilang hanya uang receh," kata Mia, staf bengkel Mitra Setia, Jumat (4/11/2011).
Jika saja staf bengkel lalai dan tetap menyimpan uang hasil usaha harian, bukan tidak mungkin kawanan maling itu bisa menggondol uang puluhan juta rupiah. Sebab, bengkel yang berlokasi di depan Stasiun Radio Madura FM itu dikenal paling ramai di Kota Pamekasan.
Menurut Mia, kerugian yang nilainya paling besar adalah hilangnya sejumlah peralatan bengkel. "Peralatan bengkel itu berstandar Ahass. Harganya cukup mahal," sambung Mia.
Mia mengaku masih menghitung jumlah set peralatan yang hilang. Namun, kata Mia, diperkirakan nilai pelatan standar Ahass itu bernilai jutaan rupiah.
"Sedangkan 2 unit hape milik karyawan yang tertinggal di atas meja saya, juga hilang," sambung gadis berkulit putih itu.
Menurut Mia, orang pertama yang mengetahui bengkel kebobolan adalah Babus Salam (35). Pria asal Desa Larangan Slampar Kecamatan Tlanakan itu memang dipercaya memegang kunci bengkel.
"Pertama membuka pintu depan saya tak curiga. Tapi, begitu membuka pintu tengah dan pintu belakang, saya terkejut karena tak tertutup dan temboknya jebol seukuran 20 cm," ungkap Babus.
Begitu mengetahui bengkelnya kebobolan, Babus yang bertugas sebagai tukang cuci motor sehabis diservis itu, melapor ke Mapolsek Kota Pamekasan.
Kapolsek Kota, AKP Mustagfir mengatakan, pihaknya telah olah TKP. "Kami sudah memiliki petunjuk berupa sidik jari yang akan kami teliti lebih lanjut," katanya.
Apakah ada motif persaingan usaha dibalik pembobolan bengkel Mitra Setia, Pak?. "Kami belum mengarah kesana," pungkasnya.
(fat/fat)











































