Pengusutan Polisi Penembak Guru Ngaji Dideadline Ansor 2 Minggu

Pengusutan Polisi Penembak Guru Ngaji Dideadline Ansor 2 Minggu

- detikNews
Kamis, 03 Nov 2011 23:50 WIB
Pengusutan Polisi Penembak Guru Ngaji Dideadline Ansor 2 Minggu
Sidoarjo - Sekitar 3000 warga dan anggota GP Ansor se Sidoarjo menggelar tahlilan mengenang meninggalnya Riyadhus Sholihin.

Doa bersama yang digelar di Masjid Jami' Rochmat Desa Sepandi Kecamatan Candi
Sidoarjo itu berlangsung hingga Pukul 21.00 Wib. Terlihat diantara massa adalah

Ketua PWNU Jatim KH Mutawaqil Alallah, Ketua NU Sidoarjo KH Miftachul Ashar
Ketua PP GP Ansor Nusron Wahid. Nusron dalam sambutannya, seluruh kader Ansor di Indonesia merasakan kehilangan dengan meninggalnya salah satu kader di Sidoarjo yang ditembak polisi itu.

"Semestinya polisi menembak koruptor atau teroris, jangan menembak kiai atau guru ngaji, itu rakyat. Polisi itu dibiayai rakyat," tandas Nusron, Kamis (3/11/2011).

Nusron berharap kepada kepolisian menangangi kasus penembakan kader Ansor itu secara profesional dan transparan.

"Saya deadline dua minggu mulai hari ini harus tuntas. Pelaku harus diadili di pengadilan," tandasnya sembari menyatakan keraguannya terhadap tim pencari fakta bentukan polisi.

Untuk itu, kata dia, Ansor akan membentuk tim pencari fakta untuk mengimbangi
hasil penyelidikan polisi. "Hasilnya nanti akan diserahkan ke pihak yang berwajib. Tim kita akan bekerja cepat dan profesional," terangnya.

Riyadhus Sholihin tewas ditembak anggota Reskrim Polres Sidoarjo, usai menyerempet seorang polisi Briptu Widiarto di depan GOR Delta Sidoarjo, pada Jumat (28/10/2011) sekitar pukul 02.30 WIB.

Sholihin yang sempat melarikan diri karena ketakutan, dikejar oleh 5 anggora reskrim lainnya hingga di Desa Sepande. Sebelum kader Ansor itu ditembak, mobil yang dikendarainya sempat menabrak pagar rumah milik seorang warga.

Dan yang tragis, di dalam mobil yang digunakan untuk antar jemput karyawan PT
Ecco, guru ngaji yang juga penjual tempe itu ditembak oleh Briptu Eko Kristanto.
Korban sebelumnya dilaporkan pelaku karena akan melawan dengan clurit. Namun akhirnya polisi mengklarifikasi.

Polda Jatim telah merehabilitasi nama baik Riyadhus Solikhin. Tim pencari fakta menemukan bukti jika korban tidak melakukan perlawanan dengan clurit saat ditembak.

"Kami sudah memperbaiki nama baik korban yang sebelumnya jelek akibat adanya pernyataan, jika korban sempat melakukan perlawanan dengan celurit. Tapi hal itu ternyata tidak benar, sehingga nama korban direhabilitasi," kata Ketua Tim Percepatan Penyelesaian Kasus, Kombes Pol Coki Manurung saat dihubungi detiksurabaya.com, Rabu (2/11/2011).

(gik/gik)
Berita Terkait