Pegawai PT Ecco Tak Yakin Sholihin Membawa Clurit

Guru Ngaji Tewas Ditembak

Pegawai PT Ecco Tak Yakin Sholihin Membawa Clurit

- detikNews
Selasa, 01 Nov 2011 19:05 WIB
Sidoarjo - Koordinator Angkutan Antar Jemput Karyawan PT Ecco Indonesia (EI) tidak yakin jika Riyadhus Sholihin membawa clurit di dalam mobil yang biasa digunakan untuk mengangkut para karyawan.

Riyadhus Sholihin, guru ngaji asal Desa Sepande, Candi, Sidoarjo, itu diterjang timah panas milik anggota reskrim karena berusaha menyerang Briptu Eko.

"Saya nggak yakin kalau almarhum selalu membawa senjata tajam. Karena aturan sopir di sini, tidak boleh membawa senjata tajam. Kalau sampai ketahun membawa senjata tajam dan ditangkap polisi, pasti akan diputus hubungan kerjasamanya dan tidak boleh mengantarkan karyawan," kata Syamsul kepada detiksurabaya.com, Selasa (1/11/2011).

Sholihin bapak dua anak warga Sepande, Candi Sidoarjo itu, menjadi sopir antar jemput karyawan PT EI sejak lima bulan lalu. Meski baru lima bulan, pengurus Ansor Sidoarjo itu dikenal baik dan tidak pernah berbuat macam-macam seperti melakukan tindak pidana, maupun pelanggaran lalu lintas.

"Kalau melanggar lalu lintas atau terjaring operasi, kan pasti karyawan berangkat ataupun pulang jadi terlambat. Mengantar berangkat kerja atau pulang ke rumah tidak boleh terlambat. Kalau sampai terlambat akan ditegur. Jika keseringan, tidak digunakan lagi," ujarnya.

Mobil carry nopol Nopol W-1499-NW yang digunakan untuk antar jemput karyawan PT EI setiap pukul 15.00 WIB dan pulang pada 01.00 WIB dini hari dengan rute Buduran-putar balik ke kawasan Wader Wojo melewati GOR hingga ke Taman Pinang.

Mobil tersebut, bukan dari perusahaan, tapi dari luar perusahaan. Selain Sholihin, ada sekitar 90 sopir lainnya, yang antar jemput dan mendapatkan bayaran setiap bulannya dari pihak ketiga yakni CV Satria Samudra Bhakti. Sedangkan mobil caary yang dikemudikan Sholihin, mengangkut sebanyak 12 karyawan dan mayoritas perempuan.

"Meskipun mobilnya bukan dari perusahaan, tapi pengawasan yang kami lakukan sangat ketat. Kan berangkatnya sore dan pulangnya dini hari, jadi semua kelengkapan kendaraan seperti lampu, harus aktif semua. Kalau ada yang tidak lengkap, pasti kami tegur secara lisan," katanya.

Syamsul juga terkejut mendegar kabar Sholihin ditembak polisi karena melakukan perlawanan dengan membawa clurit. Pasalnya, setiap minggu sekali, petugas dari Polsek Candi menggelar operasi ke semua angkutan antar jemput yang diparkir di pinggir jalan. Jika PT EI mendapatkan laporan dari polsek, tentang sopir antar jemput karyawan diamankan karena membawa sajam, pasti mendapatkan sanksi berat.

"Yang saya tahu, seminggu sekali petugas Polsek Candi menggelar operasi di jalan. Kalau sampai terjaring operasi polisi, bukan teguran lagi, tapi langsung diputus kerjasamanya," jelasnya.

Seperti yang diberitakan, Riyadhus Sholihin tewas ditembak oknum anggota Reskrim Polres Sidoarjo, usai menyerempet seorang polisi di depan GOR Delta Sidoarjo, pada Jumat (28/10/2011) dini hari sekitar pukul 02.30 WIB.


(roi/bdh)
Berita Terkait