Rasa tidak percaya dengan kronologis yang disampaikan polisi itu diungkapkan Khusnan, salah satu kerabat korban. "Adik ipar saya bapak yang bertanggungjawab dan tidak pernah terlibat kriminal seperti narkoba atau kriminal lainnya," ujar Khusnan kepada wartawan saat berada di depan ruang jenazah Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jatim, Jalan Ahmad Yani Surabaya, Jumat (28/10/2011).
"Selain pekerja keras, almarhum juga tekun dalam beribadah. Adik ipar saya ini juga menjadi pengurus musola," katanya.
Keterangan sementara dari pihak kepolisian, polisi mengeluarkan tembakan dan mengenai lengan korban, karena Sholihin dinilai sebelumnya menabrak anggota polisi hingga gegar otak dan mengeluarkan senjata tajam jenis celurit dan mengenai jari kelingking petugas kepolisian.
"Nggak mungkinlah adik saya mengelaurkan celurit," tuturnya. "Kalau ingin menghentikan kan tidak dengan menggunakan cara mengeluarkan tembakan," tambahnya.
Namun, kata Khusnan, pihaknya tidak bisa berbuat banyak dengan pernyataan polisi. Pasalnya, saat kejadian, tidak ada pihak keluarga maupun saksi yang melihat langsung kejadian yang menimpa adik iparnya.
"Kita sekarang hanya bisa pasrah. Makanya kita berharap dengan hasil aotopsi ini dapat terkuak dan tidak ada yang ditutupi," jelasnya.
Seperti yang diberitakan, seorang sopir antar jemput karyawan PT Ecco Indonesia, guru mengaji hingga penjual tempe keliling, Riyadhus Sholihin tewas di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sidoarjo setelah ditembak oknum polisi di depan GOR Delta Sidoarjo, pada Jumat (28/10/2011) sekitar pukul 02.30 WIBdini hari.
(roi/bdh)











































