Merica palsu pertama kali diketahui, Eko Waluyo (26) warga Randubango Kecamatan Mojosari Kabupaten Mojokerto. Waktu itu dia sedang mengantar istrinya belanja bumbu masak di Pasar Legi. Eko terkejut saat melihat merica yang baru saja dibeli isterinya.
Betapa tidak, merica yang dibelinya dengan harga yang murah itu sangat berbeda dengan merica pada umumnya. Warnanya lebih putih terang. Belanja merica tersebut, bukan pertama bagi istrinya. Bahkan sebelumnya, isterinya sudah pernah membeli dan dibuat bumbu masak.
"Setelah mengkonsumsi merica ini, perut sekeluarga kami sakit. Seperti habis makan cabe," kata Eko kepada wartawan di rumahnya, Minggu (23/10/2011).
Informasinya, merica tersebut berasal dari Desa Watudakon Kecamatan Pungging. Tak berhenti situ, bahkan merica palsu tersebut diduga diproduksi di Dusun Tengger, Desa Watudakon, Kecamatan Pungging. Selain itu di dusun lain juga ada keberadaan merica palsu seperti di Dusun Kenongo.
"Kalau di daerah Watudakon sendiri, hampir setiap rumah menjadi pengepul merica ini. Banyak sekali," ujar Eko.
Sementara itu, menurut keterangan Maria (23), Warga Desa Watudakon, Target penjualan pasar merica palsu itu selain Kabupaten Mojokerto, juga telah tersebar di Kabupaten Sidoarjo serta Malang.
"Memang banyak di Watudakon pengepul merica ini. Selain Mojokerto, mereka menjualnya ke Sidoarjo dan Malang," katanya.
Terpisah, menurut Arifin, tokoh masyarakat Desa Watudakon kepada wartawan membenarkan adanya bisnis merica yang diduga palsu yang dilakukan dua dusun tersebut. Bahkan menurutnya, merica palsu tersebut sudah ada sejak 2009 dan sudah menjadi bagian mata pencaharian warga.
"Memang benar, banyak warga yang membuat merica palsu, tapi itu sudah sebagai pekerjaan sehari-hari, kita kesulitan untuk melarangnya," jelasnya.
(fat/fat)










































