Aksi dilakukan menuntut agar SBY-Boediono lebih mementingkan kesejahteraan rakyat dari daripada kepentingan koalisi. Mahasiswa reshuffle kabinet yang dilakukan SBY-Boediono hanya lelucon dan pencitraan belaka.
"Kami yakin reshuffle yang dilakukan SBY tidak bebas dari kontrak politik yang telah disepakati oleh partai-partai koalisi. Reshuffle seperti lelucon anak kecil dan pencitraan saja," kata koordinator aksi, Sudiro di lokasi.
Mahasiswa juga menilai kepemimpinan SBY-Boediono telah gagal mengantarkan rakyat Indonesia menuju kesejahteraan. 2 Tahun kepemimpinan SBY-Boediono keadaan bangsa semakin carut marut. Banyak persoalan yang tidak kunjung selesai mulai dari persoalan hukum, ekonomi, politik dan pendidikan.
"Yang paling memprihatinkan adalah persoalan hukum, semakin banyak mafia hukum dan penyalah guna hukum berkeliaran di negeri ini, padahal negara ini adalah negara hukum," jelasnya.
Pemerintah seakan telah melindungi para mafia hukum dan penyalahgunaan hukum dan membiarkan mereka bebas berkeliaran. "Hukum telah menjadi barang dagangan," tegas Sudiro.
Sementara orator lainnya, Misbahul Ulum mengaku SBY-Boediono telah gagal membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang bermartabat, bebas korupsi, dan keluar dari kemiskinan.
"Di bawah kepemimpinan SBY-Boediono, rakyat semakin menderita!" teriaknya.
Dalam aksi tersebut mahasiswa menyuarakan 6 tuntutan. Diantaranya agar SBY-Boediono lebih mementingkan kesejahteraan rakyat dari pada koalisi, SBY-Boediono harus tegas dalam menegakan serta menghukum seberat-beratnya para koruptor.
"Selain itu, SBY harus segera menganti menteri-menteri yang tersandung kasus hukum dan meningkatkan laju pertumbuhanh ekonomi," tambahnya.
Aksi yang dilakukan sedikitnya 50 mahasiswa itu mendapat perhatian khusus dari puluhan petugas kepolisian dari Polresta Pasuruan. Para mahasiswa juga menggelar aksi treatikal dan mengusung keranda mayat bertuliskan: "Jangan jadikan rakyat sebagai bahan percobaan".
(fat/fat)











































