Anjuran agar tidak menyiksa binatang, juga diberlakukan bagi pemilik kambing balap dan kelinci balap. Lima tahun belakangan ini, warga Pamekasan mulai mengenalkan lomba kerapan kambing dan kerapan kelinci.
"Hindari perilaku yang mengarah pada penyiksaan hewan dalam ajang kerapan sapi, kerapan kambing dan kerapan kelinci," imbau Ketua MUI Pamekasan, KH Ali Rahbini, Rabu (19/10/2011).
Anjuran KH Ali Rahbini tersebut diputuskan dalam diskusi MUI Pamekasan dengan pengurus Forum Komunikasi Ormas Islam (Fokus) dan Lembaga Pengkajian dan Penerapan Syariat Islam (LP2SI) di Kantor MUI yang menempati lantai dasar Gedung Islamic Centre Jalan Raya Pangelgur Pamekasan.
Selanjutnya, KH Ali Rahbini akan melayangkan hasil diskusi tersebut kepada jajaran samping seperti Kepala Bakorwil IV Madura, Bupati Pamekasan, dan Kapolres Pamekasan.
Menurut KH Ali Rahbini, tradisi balap hewan seperti kerapan sapi, kerapan kambing dan kerapan kelinci, memang tak bisa dipisahkan dengan etnis Madura. Kerapan sapi malah sudah dikenal sejak sebelum Indonesia merdeka.
"Namun, dari tahun ke tahun, penyelenggaraan kerapan sapi tak bisa melepaskan perilaku keras dan kejam ke atas tubuh sapi kerap. Penyiksaan sapi inilah yang harus dikurangi bahkan dihindarkan para joki," sorot KH Ali Rahbini.
Penyiksaan sapi kerap sangat vulgar diperlihatkan kepada penonton. Seperti memukul pantat sapi dengan tongkat bergerigi paku tajam, mengolesi mata sapi dengan balsem dan bahkan ada yang menusuk anus sapi dengan besi runcing.
Sedangkan kerapan kambing dan kelinci, para pemiliknya menyiksa dengan mengikat ekor kambing dengan lempengan besi bergerigi tajam dan mata dibalsem.
Kelinci kerap juga tak luput dari penyiksaan. Badan kelinci dijepit dengan penjepit besi dan ditusuk peniti yang diberi pita warna-warni. Semua penyiksaan itu ditujukan agar hewan berkaki empat itu larinya kencang dan masuk garis finis lebih cepat dari lawannya.
Anjuran tak menyiksa sapi itu terkait dengan ajang Kerapan sapi Piala Presiden bakal digelar pada tanggal 23 Oktober nanti.
Lebih jauh, Ali Rahbini meminta penyelenggara kerapan sapi, kerapan kambing dan kerapan kelinci menjauhkan perjudian yang kerap terjadi di arena kerapan.
Ketua MUI Pamekasan itu, juga meminta panitia penyelenggara kerapan menyediakan ruangan untuk salat dan fasilitas air wudlu. Kerapan sapi yang diselenggarakan seharian, membuat warga muslim lalai salat duhur dan salat ashar. "Jadi lebih baik panitia kerapan sapi menyiapkan tempat salat dan air wudlu," tutup Kiai Ali Rahbini.
(bdh/bdh)











































