Kepala Tagana Kota Batu Simon Purwoali mengatakan, kebakaran terjadi sejak 3 hari terakhir. Peristiwa itu berawal pada Rabu (12/10/2011), malam api membakar semak belukar dan pepohonan di petak 227 tepatnya di Dusun Seruk Desa Pesanggarahan Kota Batu.
"Tapi bisa dipadamkan pagi harinya," kata Simon saat dihubungi detiksurabaya.com, Jumat (14/10/2011) siang.
Ia menambahkan, titik api kembali muncul pada esok sore yang langsung menjalar cepat hingga siang ini, diprediksi 70 persen pepohonan jenis Cemara, Akasia, dan Pinus dan ilalang setinggi 2 meter hangus terlahap si jago merah.
"Api menyambung menjalar hingga 70 persen areal gunung," ungkap dia.
Ia mengaku, seluruh tim tanggap bencana bersama jajaran terkait berada di lokasi untuk berupaya memutus kobaran api, dengan jalan membuat sekat atau membabat areal yang belum terbakar. "Upaya kami hanya itu, dengan membuat sekat untuk memotong api yang menjalar," ujarnya.
Langkah itu juga dilakukan untuk menghindari rembetan api menuju utang produksi yang berjarak hanya 300 meter dari titik api terdekat. "Kami takutkan menjalar ke hutan produksi, karena api sudah dekat," tandas dia.
Menurutnya, upaya itu merupakan jalan yang tepat memutus kobaran api, melihat kondisi ilalang serta semak belukar yang mudah terbakar.
Sementara kebakaran melanda Gunung Panderman itu disayangkan warga, karena ketidakpedulian terhadap kelestarian memicu kejadian itu.
"Kami sangat menyayangkan kebakaran ini," tutur Syaifuddin Zuhri (45), warga Desa Pesanggrahan, Kota Batu, dikonfirmasi terpisah.
Syaifuddin menambahkan, adanya petugas kehutanan semestinya dapat menangkal timbulnya bahaya kebakaran, dikarenakan mereka kerap kali menggelar patroli. Namun kurangnya kepedulian terhadap lingkungan menyebabkan hutan yang asri itu terbakar.
"Semestinya polhut bekerja maksimal," imbuh dia.
Dari pantauan detiksurabaya.com terlihat kepulan asap membumbung tinggi di beberapa titik di kawasan Gunung Panderman, diprediksi sudah puluhan hektare lahan hangus akibat dilahap si jago merah. Dugaan sementara api berasal dari puntung rokok dari pendaki yang telah melakukan pendakian.
(fat/fat)











































