Puluhan mahasiswa tergabung Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) dalam orasinya menilai kebrobokan negara semakin parah dengan tak tuntasnya kasus Bank Century yang menjadi kenangan tanpa tindak pidana pasti.
Akibat korupsi itu ketimpangan sosial semakin terasa. Ditambah lagi pemerintah telah menggadaikan kesejahteraan rakyat dengan kebijakan yang sama sekali tak pro rakyat.
"Sebut saja impor garam, daging, serta beras. Yang semuanya ada di negara ini," terang Amrulloh Presiden BEM UIN Maliki di sela-sela aksi, Kamis (22/9/2011).
Kejadian-kejadian itu, lanjut dia, menegaskan pemerintah SBY tak layak kembali memimpin negara ini. Sikap lemot pemerintah terhadap kasus korupsi semakin menyatakan bentuk kebusukkan struktur di pemerintahan.
"SBY lemot bagi kami, dan harus mundur begitu juga dengan wakilnya," tegas mahasiswa Fakultas Tarbiyah ini.
Melalui aksi itu mahasiswa juga mengeluarkan sejumlah tuntutan. Diantaranya usut tuntas kasus korupsi di kementrian serta Bank Century, tolak remisi pada koruptor, hentikan semua impor dan tuntaskan kasus lumpur Lapindo.
"Untuk remisi koruptor kami sangat menyesalkan, pemerintah melakukan itu," tandas Amrulloh.
Dalam aksinya mahasiswa juga melengkapi dengan spanduk besar serta poster bertulis pengecaman terhadap pemerintah SBY, di akhir aksi mereka mengirim surat ditujukan kepada SBY yang berisi semua tuntutan yang dikeluarkan.
"Kami akan kirim surat yang mana menegaskan SBY lemot, dan mengawalnya," ujar Amrulloh.
Menurutnya, tindakan itu dilakukan karena selama ini teriakkan rakyat tak pernah mendapatkan respon dari pemerintah. Sepanjang aksinya, mahasiswa mendapat pengawalan ketat dari aparat kepolisian.
"Aksi dengan mengecam kinerja pemerintah seringkali dilakukan, tapi tak mendapat respon. Makanya kami berkirim surat langsung," ungkapnya.
(fat/fat)











































