Beruntung, tidak ada korban jiwa karena saat kejadian para guru berhasil menyelamatkan diri. Menurut Kepala Sekolah (Kasek) SDN Kwangseng II, Nur Wahyudi, sebelum kejadian, dia dan dua orang, Sunarti Bendahara Sekolah dan Slamet, seorang pensiunan guru setempat mendengar suara kayu retak dan akan runtuh.
"Saya langsung teriak menyuruh semua keluar. Untungnya runtuhnya atap tidak semuanya. Jadi Bu Narti dan yang lain bisa menyelamatkan diri terlebih dahulu," kata Nur Wahyudi ke pada detiksurabaya.com saat ditemui di lokasi.
Nur menjelaskan, kondisi bagunan sekolahnya cukup memprihatinkan. Karena sejak berdiri tahun 1981, baru beberapa ruang saja yang sudah diperbaiki. Hal ini membuat kayu-kayu penyangga dan kuda-kuda bangunan banyak yang lapuk dan keropos.
"Kita sudah mengajukan bantuan tapi untuk ruang kelas V, ruang guru dan perpustakaan masih belum mendapatkan bantuan. Dan belum sempat bantuan datang ruangnya sudah ambruk duluan. Sedang untuk siswa kelas V kami pindahkan ke ruang kelas I hal ini untuk mencegah hal-hal yang tidak kita inginkan," jelasnya.
Dia mengaku, kejadian ini menggangu proses belajar mengajar. Karena selain siswa harus berbagi kelas, mereka ada yang belajar di musola sekolah.
Sementara Kepala Unit Pelayanan Teknis (UPT) SD dan TK Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Madiun, Martono mengatakan, pihaknya akan segera melaporkan ke kepala dinas. "Saya laporan dulu mas ke pak kepala dinas," ucapnya singkat sambil berlalu.
(fat/fat)










































