Menurut Suwardi (52), seorang warga pemilik 3 ekor sapi, tradisi mengalungkan ketupat di leher sapi merupakan tradisi yang dia lakukan setelah mendiang ayahnya melakukan hal yang sama.
Jika tradisi mengalungkan ketupat ke leher sapi itu dilanggar, maka sapi-sapi piaraan warga akan terkena penyakit dan hilang selera makan. Akibatnya sapi menjadi kurus dan harga jualnya anjlok.
"Karena sudah tradisi yang sangat diyakini warga Kampung Pangkepek, maka saya dan warga pemilik sapi melakukan tradisi mengalungkan ketupat di leher sapi," ujar Wardi yang ditemui di belakang rumahnya, Rabu (7/9/2011).
Tradisi itu diawali dengan selamatan ketupat di masjid setempat. Sejak pukul 07.00 WIB, ratusan warga pria tampak bersila di dalam masjid. Mereka menunggu para istrinya mengusung baki berisi piring sendok, air mineral, seikat ketupat, buah-buahan, dan opor ayam.
Sejam kemudian, acara selamatan makan ketupat bersama dimulai dengan iringan doa sesepuh kampung. Usai selamatan ketupat, Wardi langsung menuju kandang sapi di samping rumahnya. DIbantu 2 anaknya, Wardi memandikan 3 ekor sapinya.
Warga pemiliki sapi lainnya melakukan hal yang sama. Setelah bersih usai mandi, sapi-sapi itupun di ikat di tiang bambu lalu dikalungi 2 juntai ketupat.
"Ketupat itu dikalungkan hingga kering," imbuh Wardi, sembari mengelus leher sapinya. Tradisi memang terus dirawat warga Kampung Pangkepek. Termasuk kelak bakal diteruskan oleh anak dan cucu Suwardi.
(bdh/bdh)











































