Massa yang didominasi ibu-ibu ini langsung turun dan menuju ke lumpur Lapindo. Karena situasi lumpur sedang kering, massa pun beramai-ramai ikut menabur bunga dan larut dalam upacara yang ditujukan untuk para leluhur yang telah meninggal menjadi korban luapan lumpur Lapindo.
"Kami sangat kecewa karena masalah ini semakin berlarut-larut, tak kunjung usai," kata Hajah Nur Aini (29) salah satu warga Desa Jatirejo RT 6 RW II Kecamatan Porong saat ikut menggelar upacara tabur bunga di lokasi lumpur Lapindo, Minggu (28/8/2011).
Wanita dua anak ini justru mengaku, pembayaran ganti rugi seringkali tersendat. Akibatnya, untuk keperluan Idul Fitri nanti, ia tak punya uang sepeser pun. Padahal, kedua anaknya yang masih balita memerlukan baju dan perlengkapan hidup.
Masing-masing dari peziarah tersebut berharap supaya pihak Minarak Lapindo menunjukkan niat baik. Mereka ingin supaya pembayaran ganti rugi cepat direalisasikan dan dibayarkan kepada para korban luapan lumpur Lapindo.
"Apalagi sekarang mau lebaran, kebutuhan pokok tak pernah bisa terpenuhi," terangnya sambil terisak-isak menahan tangis.
Sebelum menuju kawasan lumpur Lapindo, ratusan warga ini berangkat dari dua titik. Yang pertama yakni puluhan warga Desa Siring, Jatirejo dan Desa Kedung Bendo yang berkumpul di titik 21 depan Pos Pantau BPLS. Sementara ratusan warga Desa Reno Kenongo berkumpul di titik 25 yang berlokasi di dekitar desanya. Mereka mengendarai kendaraan roda dua untuk menuju tanggul.
Kini, menurut pantauan detiksurabaya.com, usai melakukan upacara tabur bunga mereka kembali ke desanya masing-masing. Massa tidak melakukan orasi atau membuat keramaian di kawasan lumpur Lapindo.
(nrm/fat)










































