Korban bernama Maksum (45) mengalami luka bacok dengan jumlah sayatan mencapai 50 kali. Luka bacok itu kebanyakan terjadi di bagian wajah, kepala, lengan, dada dan paha.
Peristiwa pembunuhan ini pertama kali diketahui Munfarida (17), putri korban yang tercatat sebagai santriwarti Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Munfarida menemui ayahnya karena tidak biasanya Maksum tidak memberi pertanda imsak melalui pengeras suara.
"Setelah memasuki Imsak, Maksum tidak memberikan pengumuman yang bisa didengar warga melalui pengeras suara Musholla Madrasah. Hal inilah yang membuat keluarganya, terutama Munfarida curiga lalu berusaha memeriksanya," kata ayat (45), kerabat korban saat ditemui detiksurabaya.com di kamar mayat RSU dr Haryoto Lumajang.
Putri korban pun histeris manakala melihat tubuh ayahnya bersimbah darah. Puluhan warga pun berdatangan dan melapor ke Polsek Kedungjajang. Polisi pun melakukan olah TKP.
Sementara polisi masih mengumpulkan bukti dan mencari saksi selain putri korban.
"Kami masih melakukan penyelidikan dengan memperdalam di lokasi kejadian terlebih dulu. Motifnya belum kita ketahui pasti, saksi juga minim, karena saat Maksum terbunuh, situasi juga sepi. Saat ini kami bekerja keras dulu untuk mengungkap peristiwa pembunuhan ini," jelas Kanit Reskrim Polsek Kedungjajang Aiptu Sugito.
(fat/fat)











































