Salah satunya dialami H.Mashudi, pengrajin mukena asal Kelurahan Banjaran Kota Kediri. Dia mengaku permintaan pasar saat ini perhari meningkat 35 menjadi 70 buah. Sementara dalam bulan puasa ini ada 800 pesanan. Sedangkan hari biasa hanya 400 buah pesanan mukena.
"Untuk memenuhi permintaan pasar yang dibantu 9 orang karyawanya terpaksa menambah jam kerja hingga 24 jam," kata Mashudi kepada detiksurabaya.com, di ruang bordir usaha mukenanya, Sabtu (6/8/2011).
Untuk satu buah mukena, Mashudi menjual ke pelanggannya dengan harga antara Rp 45 ribu hingga Rp 65 ribu, tergantung jenis kain dan ornamanen bordirannya.
Sementara usaha mukena yang dirintis 2 tahun lalu ini, telah dipasarkan di beberapa daerah di Papua, Kendari, Ambon, Palangkaraya, Jawa Barat dan kota di Jawa Timur.
Bahkan kini mukena bordir buatan pengrajin ini telah menembus pasaran di Timur Tengah, Abu Dhabi. Namun sayang untuk melayani ekspor, usaha ini sulit berkembang karena terbentur faktor tenaga kerja dan modal.
Pengrajin mengaku kesulitan mendapatkan bahan baku kain dengan jumlah besar. Sebab tidak memiliki modal yang cukup, sementara jenis kain yang diminati untuk ekspor harus dibeli dalam jumlah besar.
(fat/fat)











































