Konon menurut sejumlah warga Kutorejo, tradisi berbagi bubur suruh dimulai kala Sunan Bonang masih hidup. Kala itu santrinya diminta membuatb bubur untuk dibagikan kepada jamaah disaat berbuka puasa.
Tradisi membuat bubur dari beras dengan bumbu berbagai rempah itu, hingga kini masih dipertahankan. Akan tetapi bukan dibagikan kepada jamaah dan santri sunan yang akan menunaikan salat maghrib, namun kepada siapaun yang mau datang ke kompleks sang sunan.
"Ini sudah menjadi tradisi turun temurun, Mas. Makanya tiap puasa ramadan kita selalu membuat bubur suruh ini," kata Kasuiyatun (50) warga setempat yang membantu membuat bubur di kompleks Makam Sunan Bonang, Jumat
(5/8/2011) sore.
Warga pun sejak adzan Ashar berbunyi biasanya sudah berkumpul, membawa wadah dari rumah masing-masing. Mereka menunggu bubur yang dibuat selesai. Bubur tersebut langsung dibagi kepada masyarakat tanpa dipungut biaya.
Menurut Rukamah, warga setempat, pembuatan dari bubur suruh ini lumayan rumit. Betapa tidak, bahannya terbuat dari beras ketan, santan, daging sapi atau kambing dan garam. Ditambah bahan rempah-rempah lain sehingga aromanya demikian menggugah selera.
Bumbu itu langsung dicampur dalam wajan besar yang terbuat dari tembaga. Setelah itu, diolah selama beberapa jam. Dan dimasak dengan api besar dari kayu kering yang dibakar. Masih tradisional, sehingga aromanya memang khas.
"Kalau rasanya memang gurih dan asin, tapi enak banget mas karena cara
pembuatan bubur ini kan warisan dari Mbah Sunan Bonang," kata Ny Indriani warga Kelurahan Kebonsari, yang biasa datang di saat pembagian bubur.
(fat/fat)











































