Temuan itu berasal dari laporan bank-bank umum yang berada di wilayah kerja BI Kediri maupun laporan dari warga sendiri yang menjadi korban mendapat upal.
Menurut keterangan pihak BI, maraknya peredaran uang palsu ini biasa terjadi saat bulan Ramadan dan Lebaran. Pihak BI berharap masyarakat waspada dan lebih teliti dalam menerima uang dalam bentuk pecahan
"Rata-rata nilai uang yang dipalsukan mulai nominal Rp 20 ribu, Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu," kata Matsisno Pemimpin Bank Indonesia Kediri kepada detiksurabaya.com, Senin (1/8/11).
Sementara Dery Rusianto Deputi Pemimpin sistem Pembayaran dan Managemen Intern BI Kediri mengungkapkan BI akan berupaya memperbaiki kualitas uang baik logam maupun kertas.
"Ini dilakukan menyusul tingkat kejahatan pemalsuan uang semakin canggih," jelas Dery kepada detiksurabaya.com.
Menurut Dery, pemakaian sinar ultraviolet dan teknik 3 D yakni dilihat, diraba dan diterawang masih cukup efektif guna mengecek keaslian uang. Namun jumlah uang palsu sudah berkurang dibanding dengan temuan sebelumnya.
Saat itu peredaran uang palsu di wilayah Kediri dan Madiun mencapai nominal Rp 300 juta.
(fat/fat)










































