Saat kejadian Paito, sedang terlelap tidur bersama Popi Sucihati (8), Hengki Mustabil (7), dan Puji (4). Sedangkan di kamar sebelah sedang tertidur Rukmini, istri korban bersama anak terakhirnya, Juni Lantib Santoso yang beru berusia satu tahun.
Peristiwa berdarah ini terjadi sekitar pukul 02,30 WIB, Sabtu (30/7/2011). Rukmini mendengar teriakan suaminya merasa kesakitan, dan langsung di hampiri. Bahkan korban sempat berkata peda istrinya yang menanyakan kondisinya yang sekarat berlumuran darah.
Menurut Rukmini, korban sempat mengatakan, dirinya telah dibacok perutnya oleh Tosilah, warga pendatang dari Madura. "Setelah beberapa saat bercerita, kemudian dia menghembuskan nafas terakhirnya di depan saya," ujarnya.
Mengetahui kondisi suaminya yang sudah tak bernyawa, Rukmini langsung berteriak minta tolong pada warga.
Dengan kejadian ini menurut beberapa warga sekitar, korban dengan Tosilah sebelumnya sudah 5 tahun tidak bicara satu sama lain dipicu akibat salah paham.
Saat itu Tolsilah, oleh warga di jadikan kyai atau bertugas memimpin doa setiap kali warga mendapatkan hasil panen sawahnya. Namun, korban dengan maksud bercanda mengatakan "Ngeniki enak seng tukang ndungani oleh wajib terus (Gini ini yang bertugas memimpin doa dapat bayaran terus)".
Ternyata hal itu memicu kemarahan pelaku. Hingga akhirnya terjadi permusuhan yang berujung maut ini.
Setelah kejadian pelaku langsung melarikan diri. Namun berkat kesigapan petugas kepolisian, pelaku berhasil ditangkap di Desa Clebung, Kecamatan Bobolan, Bojonegoro. Selanjutnya pelaku diamankan di Polres Bojonegoro.
(bdh/bdh)











































