Dari pantauan detiksurabaya.com, polisi itu didatangkan dari semua polsek. Diantaranya Polsek Kemlagi, Gedeg, Puri, dan Polsek Bangsal. Mobil patroli Polsek beserta 4 anggota polisi, berjaga sambil mengawasi setiap kerumunan massa.
Beberapa warga yang berkerumun diminta bubar oleh polisi. Penjagaan ini dilakukan polisi, guna menghindari aksi balasan dari para pengikut JAT. Meski di desa itu pengikut JAT tidak banyak, namun JAT juga memiliki pengikut di beberapa desa lain.
Polisi juga berjaga tidak jauh dari rumah salah satu tokoh JAT, Sutrisno (47). Dikhawatirkan, massa akan bertindak anarkis. "Kita ingin suasana segera kondusif," kata Kapolsek Kemlagi AKP Romhadi Wiyanto kepada wartawan di Balai Desa Betro, Minggu (17/7/2011).
Terkait dengan tuduhan warga jika tempat yang dirobohkan itu menjadi sarang teroris, Romhadi menyatakan masih menyelidiki dugaan itu. "Kita tidak bisa tergesa soal tuduhan teroris. Tapi memang sudah lama polisi juga memantau kelompok ini," kata Romhadi.
Soal perusakan yang dilakukan massa, Romhadi juga mengaku masih mendalami kasus ini. Hasil laporan dan pemeriksaan, akan menjadi landasan hukum polisi. "Prinsipnya kami bisa memahami tuntutan warga, tapi juga kami harus melindungi semua warga negara," kata Romhadi.
Sejauh ini belum ada pasukan Dalmas Polres Mojokerto yang disiagakan di sekitar lokasi. Hal ini cukup riskan, karena jarak antara Desa Betro dengan Mapolres Mojokerto, sekitar 30 kilometer. Sehingga membutuhkan waktu sekitar 1 jam perjalanan.
(bdh/bdh)











































