Menurut panitia, acara itu merupakan bentuk kenangan terhadap pahlawan kemerdekaan Indonesia, dimana dahulu, para penjuang memang makan seadanya dan hanya menggunakan daun pisang sebagai tempat makanan yang akan disantap, atau yang lebih dikenal dengan sebutan takir.
Menurut Hari, acara ini merupakan agenda tahunan, dan diselenggarakan sebelum bulan Agustus. "Ini bentuk kenangan dan tanda jasa kami terhadap para pejuang kemerdekaan Indonesia ini," ujarnya kjepada detiksurabaya.com, di sela acara.
Makanan tradisonal dengan alat tradisional ini, menurut Hari, merupakan simbol bahwa pahlawan Indonesia dengan kesederhanaan dan semangat, bisa melawan penjajah. "Selain itu makanan tradisional memang mengandung gizi yang lengkap," tambahnya lagi.
Pengamatan detiksurabaya, dalam acara tersebut menu makanan yang ada bukan nasi putih, melainkan nasi campur jagung, serta nasi tiwul. Lauk pauknya juga sederhana, yaitu ikan teri serta urap sayuran.
"Jadi tidak ada daging di sini, kalau mau mencoba silahkan," sambung anggota PITI Situbondo, menawarkan menu makanan ke wartawan.
(bdh/bdh)











































