Pihak asing disebut Arema belakang diketahui adalah Walikota Batu Eddy Rumpoko yang mengucurkan dana sebesar Rp 10 miliar pekan lalu kepada pemain dan pelatih. Pemberian uang itu disaksikan Ketua Yayasan Arema M. Nur di Balai Kota Batu. Peristiwa itu juga membawa M. Nur dipecat dari jabatannya.
"Semua gagal, setelah pencairan uang dari pihak asing. Kami kecewa secara pribadi mengapa pemain dan pelatih mau menerima," ujar Pembina Yayasan Arema Indonesia Rendra Kresna saat jumpa pers di Kantor Arema Indonesia Jalan Sultan Agung, Sabtu (18/6/2011), malam.
Dia tak memungkiri para pemain dan pelatih sangat memerlukan haknya segera tercairkan. Karena itu nekat menerima uang, meski yang memberi bukan dalam kepengurusan.
"Secara pribadi saya tak salahkan pemain, karena butuh gaji untuk keluarganya. Tapi kita dengan mereka sudah ada komitmen, itu yang membuat kami kecewa," tuturnya.
Komitmen yang dimaksud Rendra, telah disepakati pencairan gaji maksimal pada tanggal 19 Juni 2011. Batas waktu itu baru terjadi besok (hari ini--red), namun pekan lalu pemain menerima saja uang yang seharusnya bukan haknya. "Deadline baru besok, makanya malam ini kita cairkan untuk dua bulan gaji," ujarnya.
Paling fatal dari penerimaan uang itu, lanjut dia, calon investor yang telah sepakat masuk kembali mengurungkan niatnya. Sangat disayangkan rencana kesepakatan telah di depan mata jadi berantakan. "Masalah uang dari pihak asing itu menambah carut-marut di Arema. Akibatnya investor membatalkan niatnya," ungkapnya.
Rendra sendiri tak mau menyebutkan, kepastian kapan Bakrie Grup sebagai calon investor membatalkan kesepakatan dengan klub berjuluk Singo Edan. "Jangan tanya kapannya. Yang pasti Bakrie Grup batal menanamkan modalnya ke Arema," bebernya.
Rendra juga menyinggung Arema harus bersih dari kepentingan kelompok ataupun politik. Arema harus tetap sebagai perannya yakni olahraga. "Arema harus bersih dari politik dan kepentingan kelompok," tegasnya.
Mengenai minat Bakrie Grup hingga berpeluang besar membeli Arema, Rendra menerangkan, bahwa Bakrie satu-satunya memiliki komitmen baik hingga menjadi prioritas, bukan karena intervensi politik atau kelompok tertentu.
"Bakrie lebih komit untuk pegang Arema. Alasan itu menjadi pegangan kita. Bukan karena politik atau kelompok tertentu," paparnya.
(bdh/bdh)











































