Pesan singkat berisi ancaman bom tersebut diterima Suparlan sebanyak tiga kali. Nomor pengirim pesan singkat itu tak diketahui siapa pemilik dan identitasnya. Meski ragu dengan isi pesan singkat tersebut, namun Suparlan tetap melaporkan ancaman tersebut ke Polsek Rogojampi.
"Saya ragu dengan isi SMS itu, tapi biar lebih aman saya tetap melapor ke Polsek," jelas pria bertubuh kurus ini, saat ditemui wartawan di Polsek Rogojampi.
Ancaman tersebut akhirnya direspon polisi dengan menyisir toko korban di Jalan Raya Lugonto Desa/Kecamatan Rogojampi. Garis polisi dipasang di sekeliling Toko Mendut tersebut. Dengan hati-hati, polisi membuka rolling door yang ada.
Selanjutnya dengan menggunakan metal detector seluruh ruangan toko diperiksa petugas. Alhasil ancaman tersebut tidak terbukti, karena tidak ditemukan bom seperti yang disebut di dalam pesan singkat misterius tersebut.
"Sudah kita sisir, tidak ada apa-apa," jelas Kanitreskrim Polsek Rogojampi, Iptu Winardi, di lokasi.
Meski begitu polisi tetap menyelidiki SMS berbau teror tersebut. Seorang warga berinisial BW sempat diamankan karena diduga sebagai pengirim SMS teror. BW sendiri seorang buruh angkut yang sempat berselisih paham dengan Yulian Sulamit, istri Suparlan.
"BW pernah cekcok dengan yang perempuan. Perihal ongkos angkut tepung yang cuma dibayar Rp 10 ribu," tambah Winardi.
Sebelum diteror bom, rumah Suparlan pernah dibakar oleh orang tak dikenal. Saat itu garasi mobilnya yang menjadi sasaran. Beruntung, kobaran api yang masih kecil diketahui warga dan dipadamkan.
"Baru beberapa hari rumah saya mau dibakar orang," ungkap Suparlan.
Polisi masih menyelidiki ada tidaknya kaitan SMS bom dan kejadian rumah Suparlan yang dibakar. Namun dari isi SMS teror diduga pelakunya adalah orang yang kenal korban.
(fat/fat)











































