Seharunya, para penyedia kondom lebih selektif untuk menjual barang dagangannya. "Bukan masalah untung semata yang dipikirkan, melainkan masa depan anak muda itu lebih penting. Jadi tolong, jangan melayani pembeli dari kalangan pelajar utamanya," tukas Sekjen MUI Situbondo H Hamid Jaufarul Radi, kepada detiksurabaya.com, Minggu (12/6/2011).
Tidak setujunya MUI dengan penjualan kondom secara bebas memiliki alasan. Salah satunya untuk mengurangi angka seks bebas di kalangan pelajar, meski MUI sendiri mengaku belum tahu pasti berapa angka penganut seks bebas di kalangan pelajar Situbondo.
Namun, tidak menutup kemungkinan banyak Pelajar Situbondo yang sudah terpengaruh dengan dunia seks bebas. MUI berharap dukungan semua elemen masyarakat untuk ikut mendukung MUI terkait larangan penjualanan kondom kepada pelajar tersebut.
"Bagi orang tua, kami berharap untuk memperketat pengawasan juga terhadap anak-anaknya, jadi smeua elemn harus ikut terlibat dalam rangka menekan kenakalan remeja berupa seks bebas ini," tegas Hamid lagi.
Pengamatan detiksurabaya.com, penjualan kondom di kota Santri memang sangat bebas, tanpa melihat status pembeli. Kondom itu dengan sangat mudah didapat oleh semua golongan. Penjualannya juga tidak hanya di Apotek, sejumlah kios obat maupun warung jamu, juga menyediakan alat kontrasepsi berbahan karet tipis itu.
(bdh/bdh)











































