Dari informasi yang dihimpun menyebutkan, kedua orang berambut cepak tersebut berinisial RD dan SN. Sebelum melakukan penculikan terhadap Fran, kedua pria ini mengatakan kepada sejumlah tetangga Frans bahwa mereka anggota Densus 88 yang hendak menangkap teroris.
Kepala Desa Mojosulur, Misdianto mengatakan, dari pengakuan sejumlah warganya yang melihat kejadian penculikan tersebut, mereka melihat dua pria berbadan tegap dan berambut cepak mondar-mandir di gang tempat Frans tinggal. "Beberapa warga melihat ada dua pria berkepala cepak," katanya saat ditemui detiksurabaya.com di rumahnya.
Misdianto menambahkan, kedua pria yang mengaku Densus 88 tersebut sempat mengatakan bahwa Frans adalah teroris yang hendak ditangkapnya. Mendengar hal itu, lanjutnya, warga di Gang 02 Nggelang Kulon langsung memilih menutup rumah dan mengintip di jendela.
"Mungkin warga takut saat penyergapan ada tembakan dan bom seperti yang ada ditanyangkan TV, karena kedua pria tersebut mengatakan bahwa Frans adalah teroris, makanya warga langsung menutup rumahnya," imbuh Misdianto.
Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Mojokerto AKP Efendi Lubis kepada wartawan membenarkan bahwa ada dua pria berambut cepak yang menjadi pelaku penculikan tersebut. Bahkan, pihaknya mengaku cara menculik korban bisa dikategorikan sangat cepat dan tersusun rapi.
Saat beberapa wartawan menanyakan apakah kedua orang tersebut adalah oknum TNI yang membekingi penculikan, Efendi hanya menjawab sedang dalam pengembangan. "Ada atau tidaknya keterlibatan oknum TNI masih belum jelas, kita masih mengembangkan kasus ini," pungkasnya.
(bdh/bdh)











































