Petugas TNAP Amankan Puluhan Burung Langka

Petugas TNAP Amankan Puluhan Burung Langka

- detikNews
Sabtu, 11 Jun 2011 12:54 WIB
Petugas TNAP Amankan Puluhan Burung Langka
Banyuwangi - Memasuki musim panas di kawasan Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) Banyuwangi, disinyalir mulai marak perburuan liar. Indikasinya karena ada tiga orang tertangkap diduga terlibat aksi perburuan liar di kawasan konservasi.

Petugas TNAP berhasil menangkap tiga orang yang terlibat perburuan liar. Dua diantaranya adalah ibu rumah tangga. Mereka yakni, Ponikem (40) dan Musriah (30). Seorang lagi pria bernama Yudi (44). Ketiganya warga Dusun Kutorejo Desa Kalipahit, Kecamatan Tegaldelimo, Banyuwangi.

Ponikem dan Musriah ditangkap dijalan desa setempat saat akan menjual burung hasil buruan suami kedua tersangka. Rencananya, burung-burung itu dijual ke penadah di Desa Sidorejo, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi.

Untuk mengelabuhi petugas, keduanya berpura-pura sebagai penjual sayuran. Burung-burung hasil kejahatan itu dimasukan kedalam bumbung (pipa bambu). Selanjutnya diangkut menggunakan tobos (keranjang bambu) yang di atasnya diletakkan bermacam sayuran.

Kedok itu terbongkar karena petugas sudah mengantongi informasi terkait aksi kedua ibu rumah tangga tersebut. Dari kedua pelaku, disita sekitar 60 ekor burung dari berbagai jenis. Selanjutnya keduanya diserahkan ke Polsek Tegaldelimo untuk dimintai keterangan.

"Suami mereka yang cari burung, istrinya yang jual. Sekarang suaminya masih buron," jelas Kanit Reskrim Polsek Tegaldelimo, Aipda Karyadi, di kantornya, Sabtu (11/6/2011).

Selang beberapa jam, petugas menangkap seorang pria yang diduga kuat pemburu liar yang tak lain Yadi. Ia ditangkap saat berada di sekitar hutan Tumpak Temu, masuk kawasan TNAP. Yadi tak berkutik saat petugas memergokinya sedang menangkap burung dengan sejumlah alat.

"Dia pancing burung liar dengan suara burung dari kaset," tambah Karyadi.

Saat dipergoki Yadi sudah menangkap sekitar 20 ekor burung dari 5 jenis. Burung Cucak Jenggot, Pancawarna, Telede'an, Larwo dan satu burung yang jenisnya belum teridentifikasi.

Sementara sasaran dari perburuan liar kali ini adalah jenis burung yang memiliki nilai jual di masyarakat. Mulai dari burung Telede'an, Larwo, Cucak Jenggot, Cucak Ijo dan jenis lainnya. Dari sekitar 80 ekor burung yang disita dan 6 ekor mati.

"Untuk kepentingan konservasi semua burung yang hidup dilepas kembali kehabitatnya," jelas Bambang Rianto, seorang petugas TNAP seusai menyerahkan para pelaku perburuan liar ke Polsek Tegaldelimo.

Diakui, perburuan liar khususnya untuk burung biasanya akan muncul saat musim panas. Sebab saat itu, burung-burung banyak berkumpul di satu titik saja yakni sumber air. Di situlah para pemburu liar memasang jaring atau perangkap untuk menangkap burung.

Berbeda saat musim hujan. Burung akan menyebar ke seluruh kawasan hutan, seiring persediaan air yang melimpah. Karenanya para pemburu kesulitan untuk menangkap burung dalam jumlah banyak.

"Kalau musim hujan air di mana-mana, penyebaran burung akan luas," tambah Bambang.

Selain burung, satwa yang kerap menjadi sasaran perburuan liar adalah mamalia. Terutama banteng dan kijang. Perburuan ini akan mulai muncul saat ramai musim hajatan. Biasanya pemburu liar menawarkan daging hewan ke pemukiman disekitar kawasan TNAP.

Kini penyidik TNAP dan Polsek Tegaldelimo menjerat ketiga pelaku dengan UU nomor 5 tentang KSDH dan Ekosistem.

(fat/fat)
Berita Terkait