Awal bulan ini, para pemain Deltras sempat melancarkan ancaman mogok untuk laga melawan Persiwa Wamena yang berlangsung 7 Mei. Ini terkait dengan gaji mereka selama sembilan bulan yang belum dibayarkan.
Pada akhirnya para pemain tim berjuluk The Lobster bersedia tampil dan menang 2-1 atas "Tim Badai Pegunungan". Meski begitu kesediaan mereka bermain tersebut bukan karena ada gaji yang sudah dibayar namun baru sebatas janji dari pemkab Sidoarjo. Hingga saat ini, tim kebanggaan Deltamania itu masih belum menerima hak-nya.
Terkait hal ini, para pemain Deltras kembali mengancam untuk mogok bertanding untuk laga melawan Arema Indonesia di Malang, 29 Mei mendatang.
"Mereka dijanjikan gaji terbayar tanggal 25 Mei. Ketika itu mereka melakukan nego sama pemkab. Mereka bahkan datang ke stadion dengan kendaraan masing-masing, bukan dengan bus. (Ketika itu--red) Mereka sampai stadion jam 3 lebih," ujar manajer Deltras Ayu Sartika Virianti saat berbincang dengan detikSurabaya.com, Selasa (24/5/2011) sore WIB. Ada pun pertandingan melawan Persiwa digelar pada pukul setengah empat sore
Sartika menyatakan bahwa pihaknya dari manajemen memaklumi ancaman mogok yang kembali muncul. "Sampai saat ini tim masih beum mau latihan. Mereka ingin menagih gaji. Wajar lah mas, sembilan bulan mereka bekerja keras bukan hanya untuk tim namun juga untuk nama Sidoarjo," jelas dia.
"Manajemen juga tidak tinggal diam. Sudah ditindaklanjuti. Kami sudah ketemu pemkab, pemaparan. Kami berharap ada penyelesaian dan bisa main tanggal 29," tuntas Sartika di ujung sambungan telepon.
Sementara itu dihubungi terpisah pelatih Nus Yadera menceritakan bahwa selepas laga melawan Persiwa Wamena, para pemain kemudian menanyakan soal gaji ke dewan. Dikatakan bahwa uang untuk gaji tinggal turun. Namun kenyataannya hal tersebut tak ada realisasinya sejauh ini.
"Janji-janji, pemain saya sudah bosan dengan janji-janji. Cuma janji tapi (gaji) tidak turun," jelasnya.
Ia mengatakan bahwa pemainnya menyadari konsekuensi dari tindakan mogok ini, andai jadi diwujudkan. "Pemain sudah tanya ke PSSI, sanksinya adalah degradasi. Tapi anak-anak sudah punya tekad seperti itu (mogok--red)," ujar Nus Yadera.
Nus Yadera menambahkan bahwa kini posisi tim adalah menunggu. Bila ada kepastian soal gaji dan mereka bersedia bermain, sang pelatih tak bisa menjamin anak buahnya bisa main bagus. Pasalnya kondisi ini membuat program latihan berantakan. Terlebih sebelum ini kompetisi ISL libur selama hampir sebulan.
"Kalau hak mereka sudah turun, mereka main. Soal kesiapan, kami siap saja. Tapi karena tidak latihan dengan rutin, kami tidak tahu mainnya bagus atau tidak," pungkas dia.
(bdh/bdh)











































