Upacara persembahan Pelita ini menempuh perjalanan dengan jalan kaki sepanjang 3 Km. Dari pantauan detiksurabaya.com, perjalanan umat Buddha menuju Candi Brahu yang diperkirakan memakan waktu 1 jam ini diiringi berbagai kesenian seperti prajurit Majapahit, Leak dari Bali, Reog Ponorogo dan Barongsai.
Beberapa laki-laki dan wanita dihias bak raja dan permaisuri Majapahit dengan menunggangi kuda. Sementara itu, ratusan pengawal kerajaan dengan membawa pedang, tombak dan pataka (bendera kerajaan) setia mengiringi perjalanan tersebut.
"Acara persembahan pelita ini memang sengaja dimodel ala Majapahit dulu," kata Pimpinan Vihara, Banthe Viiryanadi kepada detiksurabaya.com, Selasa (17/5/2011).
Tak hanya umat Buddha, beberapa Umat Islam, Hindu dan Konghucu juga terlihat mengikuti perjalanan Persembahan Pelita tersebut. Sementara sekitar 25 Bikhu dan Bikhuni dalam perjalanan tersebut terlihat membaca Buddha Tripitaka dan Paritra (puja-puji).
"Dianjurkan kepada setiap umat Buddha dalam perjalanan ke Candi Brahu ini untuk memegang bunga sedap malam dan melati sebagai lambang kesucian," kata Viryanadi
Semula jarak antara Maha Vihara Trowulan memang cukup dekat, namun prosesi perjalanan kali ini harus memutar melalui jalan raya Surabaya-Madiun sehingga arus lalu lintas padat merayap di Trowulan.
(fat/fat)










































