Modus yang dilakukan pelaku yakni memanfaatkan keluarga para tersangka. Biasanya, pelaku langsung menghubungi keluarga korban melaui sambungan telepon.
Berlagak seperti perwira polisi, para pelaku menjanjikan sanggup melepaskan tersangka dengan imbalan uang. Para pelaku biasanya mengaku sebagai Kapolsek, Kasat Reskrim hingga Kapolres.
"Suatu ketika ada keluarga tersangka (togel) yang datang menjenguk. Tiba-tiba ia ditelpon oleh seseorang yang mengaku sebagai Kapolsek Gempol. Jelas saja yang bersangkutan tidak mempercayainya karena saat itu ia sedang berbincang dengan saya,” kata Kapolsek Gempol Kompol Slamet Riyadi kepada wartawan di ruang kerjanya, Sabtu (14/5/2011).
Dengan isyarat tangan, ia meminta ponsel tersebut agar bisa bicara langsung dengan pelaku di seberang telpon. Kepada Slamet, si pelaku masih mengaku sebagai Kapolsek Gempol. Karena emosi, perwira dengan satu melati ini lantas memakinya dengan kata-kata kasar.
"Keparat! Yang bicara sama Anda ini Kapolsek Gempol," ujarnya menceritakan perihal pembicaraannya dengan pelaku.
Bukan hanya satu, hampir semua keluarga tersangka kasus togel yang berhasil ditangkap selalu dihubungi oleh orang yang mengaku dari Kapolsek atau Kapolres.
"Modusnya sama, meminta sejumlah uang dengan dalih akan membebaskan tersangka," jelas Slamet.
Hingga kini, belum ada satu pelaku pun yang berhasil dilacak. Semua nomor yang dipakai untuk melakukan pemerasan tidak aktif saat dihubungi. Pihaknya menduga pemerasan-pemerasan itu merupakan ulah dari anggota sindikat pelaku pemerasan dengan modus semacam itu.
Apakah sudah ada korban yang melapor? "Bisa saja sudah ada korban, cuma karena alasan tertentu tidak berani melapor," pungkas Slamet.
(fat/fat)











































