"Ketakutan mungkin masih trauma, tapi nggak perlu khawatir, karena tidak ada tanda-tanda penurunan tanah atau pergeseran tanah," kata Drilling and Workover Manager PT Lapindo Brantas Inc, Bambang Heru Yuwono saat dihubungi detiksurabaya.com, Jumat (13/5/2011).
Heru mengatakan, dari informasi yang didapat Badan Pelaksana Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS), bahwa adanya penurunan atau pergesaran tanah sekitar 500 meter hingga 1 kilometer dari pusat semburan lumpur di Porong. Sedangkan jarak lokasi pengeboran di Tanggulangin sekitar 2,5 sampai 3 kilometer dari titik pusat semburan lumpor di Porong.
"Pertama, di Tanggulangin tidak ada tanda-tanda keretakan tanah. Kedua, di Tanggulangin kan juga ada sumur yang berporduksi, kenyataannya tekanannya tidak berpengaruh. Ketiga, ada casing yang tertanam. Kalau sampai terjadi penurunan atau pergerakan tanah, pipanya akan penyot. Ternyata, kita masukkan peralatan produksi masih bisa dan tidak terjadi apa-apa. Keempat, pengeboran di dekat sumur yang sudah dibor. Kita melakukan pengeboran di situ juga tidak terjadi apa-apa," terangnya.
Heru menjelaskan, pada dasarnya desain maupun teknik pengeborannya sama seperti pengeboran sumur yang sudah ada dan letak casing serta kedalamannya juga tak jauh berbeda dengan sumur yang sudah ada.
"Kita bor di dekat sumur yang sudah ada. Semuanya sama dan kedalamannya juga tak jauh berbeda sekitar 3.400 sampai 3.600 TVD," jelasnya.
(bdh/bdh)











































