Dalam aksinya petani tepian sungai Bengawan Solo di Tuban ini, mengusir para pekerja yang tengah mengerjalan proyek. Mereka digiring beramai-ramai ke luar desa, berikut alat berat dan kendaraan fasilitas proyek. Kini praktis proyek tersebut terhenti.
Warga ngamuk hingga beraksi setelah selama 3 tahun terakhir tak bisa bercocok tanam. Janji pihak proyek akan membangunkan saluran pembuangan air ke Bengawan Solo tak ditepati. Itu berakibat pada lahan seluas 700 hektar milik petani tergenangi air karena sudetan sungai dibendung untuk kelancaran proyek.
Pantauan di lokasi aksi warga, ratusan petani berbondong-bondong membawa sabit dan cangkul melakukan sweeping ke kantor dan lokasi-lokasi proyek. Para pekerja proyek mereka paksa menghentikan kegiatan. Tak hanya itu, mereka juga memaksa seluruh peralatan proyek seperti, buldozer, eskavator, truk hingga motor ke luar dari lokasi proyek.
Setelah berhasil mengusir pekerja, petani langsung menyegel rumah yang dijadikan kantor proyek.
"Proyek ini justru telah menyengsarakan kami, lihat saja janjinya mau membuatkan saluran agar air keluar dari sawah. Tapi sudah 3 tahun tidak dibangun hingga kami tak bisa menanam padi," teriak para petani sambil mengusir pekerja proyek di Desa Simorejo, Kecamatan Widang, Kabupaten Tuban, Jumat (6/5/2011) siang.
Menurut seorang pekerja proyek, pihak proyek terpaksa membendung sudetan Bengawan Solo untuk mempermudah pelaksanaan proyek. Jika tak dibendung proyek waduk tak bisa dilaksanakan karena lokasinya terendam air.
"Tapi nyatanya janji akan membangunkan saluran air, tidak juga dilaksanakan sampai sekarang. Makanya petani marah hingga menghentikan proyek yang menyengsarakan petani," tegas Said, seorang petani saat ditemui di sela-sela aksi.
Akibat sudetan dibendung, ungkap Said, ada sekitar 700 hektar lahan milik petani tak bisa ditanami. Sejak proyek tersebut mulai dikerjakan pada tiga tahun lalu hingga kini, petani tak bisa memanfaatkan lahan sawahnya.
(fat/fat)










































