Menengok Pabrik Tahu yang Masih Mencintai Sotokan

Menengok Pabrik Tahu yang Masih Mencintai Sotokan

- detikNews
Selasa, 26 Apr 2011 08:39 WIB
Menengok Pabrik Tahu yang Masih Mencintai Sotokan
Banyuwangi - Sotokan, demikian pengrajin tahu di Banyuwangi menyebutnya. Dahulu, sotokan adalah alat produksi penting ditiap pabrik tahu. Kini keberadaannya tergilas seiring teknologi berkembang.

Disebut sotokan karena alat ini digerakan ke arah depan (maju) berulangkali. Atau dalam bahasa jawa disebut sotok(an). Sotokan ini terbuat dari lempengan batu yang dibentuk menyerupai cobek.

Namun permukaan dikedua sisi atas dan bawahnya datar serta tebal. Tepat dibagian tengahnya terdapat lubang. Lubang ini berfungsi untuk memasukan kedelai dan air secara bersamaan.

Cara kerjanya cukup sederhana. Dengan tuas kayu yang dikaitkan di tepinya, sotokan diputar dengan tenaga manusia. Putarannya searah jarum jam atau bisa sebaliknya. Fungsinya untuk menggilas kedelai hingga hancur dan bercampur dengan air.
 
Yang selanjutnya sari pati disaring dipisahkan dari ampasnya untuk dimasak menjadi tahu. Karena fungsinya itu, keberadaan sotokan adalah alat produksi yang vital dipabrik tahu. Sayang tak ada lagi pabrik tahu yang menggunakan alat produksi yang ramah lingkungan tersebut.

Dari penelusuran detiksurabaya.com, ke sejumlah pabrik tahu yang tersebar di Banyuwangi bagian selatan nyaris semuanya beralih ke mesin giling berbahan bakar.

Kecuali pabrik tahu mini milik Tohairi (81), di Dusun Krajan Desa Jajag, Kecamatan Gambiran. Dibilang mini karena pabrik tahu ini memanfaatkan ruang 1x5 meter yang sebenarnya hanyalah dapur rumah.

"Saya masih gunakan sotokan mas," kata Tohairi dengan bahasa Jawa saat berbincang dengan detiksurabaya.com di rumahnya yang merangkap pabrik tahu, Selasa (26/04/2011).

Produksi dengan sotokan akan jadi enteng kalau dilakukan bergantian. Idealnya, bekerja dengan sotokan membutuhkan dua orang. Satu sebagai joki sotokan. Satu orang lagi bertugas memasukan kedelai serta air ke dalam sotokan.

Atau ditengah proses berjalan, dua orang itu bisa saling bertukar posisi tugas. Namun Tohairi memiliki cara sendiri dalam menjalan sotokannya. Ia mampu menjalankan sotokannya seorang diri.

Caranya, sotokan miliknya dibuat agak kecil serta tuas kayunya dibuat pendek. Sehingga, kedua tangannya leluasa untuk melakukan dua tugas sekaligus. Memutar sotokan dan sesekali memasukkan kedelai dan air kedalamnya dengan gayung.

"Begini caranya mas," tambah Tohairi sambil tersenyum simpul saat mempraktekan cara kerja sotokannya.

Direntang tahun 70-an awal hingga tahun 90-an, di Banyuwangi Selatan semua pabrik tahu menggunakan sotokan. Pusatnya di Desa Gambiran dan Desa Jajag. Bahkan di Desa Jajag ada dusun yang bernama Petahunan, karena banyaknya pabrik tahu di dusun tersebut.

Disaat itu, menurut Mbah Irik -sapaan akrab Tohairi- pabrik tahu skala kecil memiliki sotokan hanya satu. Jika pabrik skala besar, sotokan yang dimiliki bisa mencapai dua hingga tiga unit.

"Namun lambat laun satu persatu ganti dengan mesin," kenangnya.

Saat ini sangat sulit menjumpai pabrik tahu yang memakai sotokan sebagai alat produksinya. Dari enam pabrik tahu yang tersebar di Desa Jajag dan Gambiran, hanya satu yang masih memanfaatkannya, yang tak lain milik Tohairi.

Sotokan menjadi barang langka, bukan karena adanya teknologi mesin pangan yang menggantikannya. Belakangan sotokan punah seiring banyaknya pabrik tahu yang gulung tikar akibat harga bahan baku yang tidak menentu.

(gik/gik)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini